PT Pertamina Patra Niaga mengolah minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) menjadi bahan bakar pesawat ramah lingkungan berupa sustainable aviation fuel (SAF) atau bioavtur. Langkah pemanfaatan limbah minyak goreng ini salah satunya menggandeng dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Selain menyerap limbah minyak dari dapur SPPG, perseroan juga menjaring pasokan UCO dari Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) serta pelaku industri hotel, restoran, dan kafe (horeka). Pengadaan bahan baku melalui jalur business-to-business (B2B) tersebut dijalankan lewat skema procurement agreement serta penyediaan UCO Collection Box.
Di samping jalur korporasi, Pertamina mengoperasikan skema business-to-customer (B2C) untuk mengumpulkan minyak jelantah dari masyarakat luas, komunitas, hingga kalangan pegawai internal atau perwira. Fasilitas penampungan telah disiapkan di sejumlah titik operasional. Hermawan menyampaikan bahwa dispenser pengumpul telah ditempatkan di lingkungan kilang maupun Marketing Operation Region (MOR) guna menghimpun pasokan jelantah sebelum masuk ke proses pengolahan.
Kemenkes Buka Suara soal Kasus Siswi di Karo Alami Gangguan Ingatan Terkait Dugaan Keracunan MBG

Perjalanan Riset dan Sertifikasi Bioavtur
Pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan oleh Pertamina telah berlangsung sejak akhir 2020. Pada tahap awal, riset memanfaatkan minyak inti sawit yang telah dimurnikan atau Refined, Bleached, and Deodorized Palm Kernel Oil (RBDPKO).
Uji coba co-processing perdana terlaksana di Kilang Cilacap pada Desember 2020 dengan injeksi 2 persen RBDPKO, yang kemudian dinaikkan menjadi 2,4 persen pada Februari 2021. Bahan bakar campuran ini sukses diuji terbang menggunakan pesawat militer CN-235 rute Jakarta-Bandung pada Oktober 2021. Keberhasilan berlanjut pada September 2023 saat bioavtur Pertamina menggerakkan pesawat komersial Garuda Indonesia Boeing 737-800NG dengan rute Jakarta-Solo. Pada paruh kedua 2023, perusahaan berhasil mengantongi sertifikasi Awareness System.
Update Siswi Korban MBG Karo Diduga Hilang Ingatan, Hasil EEG Normal

Penggunaan bahan baku minyak jelantah secara spesifik dimulai pada 2024. Sepanjang tahun tersebut, uji lapangan intensif dilakukan hingga Kilang Cilacap memperoleh sertifikasi internasional ISCC CORSIA serta sertifikasi untuk unit produksi Treated Distillate Hydrotreating (TDHT).
Ekosistem SAF resmi diluncurkan pada 2025, ditandai dengan produksi perdana U-SAF di Kilang RU IV Cilacap pada rentang Juli hingga Agustus 2025. Memasuki fase produksi massal pada 2026 dan masa mendatang, fokus operasional Pertamina diarahkan pada pemeliharaan dan penjagaan stabilitas mutu produk avtur berbahan baku minyak jelantah tersebut.






