Kementerian Kesehatan (Kemenkes) buka suara terkait peristiwa yang menimpa seorang siswi kelas XI SMK Bersama Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Siswi tersebut diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan sekolahnya.
Siswi berinisial FP atau Febiona Purba (16) itu dilaporkan mengalami gangguan kesehatan serius berupa gangguan ingatan hingga kesulitan berbicara. Pihak keluarga menyebutkan bahwa kondisi gangguan yang dialami Febiona kian memburuk seiring berjalannya waktu, khususnya pada daya ingat dan kemampuannya untuk berkomunikasi secara lancar.
Penanganan Medis di RS Adam Malik Medan
Menanggapi kejadian ini, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyampaikan bahwa siswi tersebut telah mendapatkan penanganan medis. Febiona menjalani perawatan secara rawat jalan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H. Adam Malik Medan sejak 31 Agustus.
Nekat Tempel 10 Kg Emas di Tubuh, WNA China Ditangkap di Bandara Bali

Untuk menangani berbagai gejala dan gangguan fungsi yang dialaminya, tim medis multidisiplin telah dikerahkan guna memantau perkembangan kesehatan pasien secara berkala.
"Saat ini ditangani oleh dokter spesialis anak subspesialis gastrohepatologi, dokter spesialis anak subspesialis neurologi dan dokter spesialis kesehatan jiwa," ujar Aji saat dikonfirmasi pada Kamis (10/9).
Keterkaitan dengan Program MBG Masih Didalami
Mengenai dugaan penyebab kondisi medis yang dialami Febiona, Kemenkes menegaskan bahwa proses pemeriksaan dan pendalaman masih berlangsung. Hingga kini, pihak berwenang belum dapat memastikan apakah penyakit yang diderita pasien memiliki hubungan langsung dengan makanan yang dikonsumsinya dari program MBG di sekolah.
Video Ceramah Tuai Kecaman, Abah Setu Minta Maaf

"Belum dapat disimpulkan ada kaitan antara penyakit yang diidap oleh FP dengan MBG," kata Aji menegaskan.
Peristiwa dugaan keracunan usai mengonsumsi menu program MBG sebelumnya juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Sumatera Utara tercatat sebagai salah satu daerah yang turut mendapati laporan insiden dugaan keracunan serupa.






