Kesenian tradisional berbasis pertunjukan yang dikenal dengan nama wayang kulit merupakan salah satu bentuk kesenian yang banyak digemari oleh masyarakat. Secara terminologi, kata wayang memiliki arti bayangan atau gambar. Sementara itu, kata kulit merujuk pada bahan kulit yang digunakan untuk membuat figur-figur karakter dalam pertunjukan seni tersebut. Sebagai sebuah kesenian tradisional, pertunjukan wayang kulit tidak hanya menyajikan tontonan visual, tetapi juga menggabungkan beragam unsur seni di dalamnya. Pada bulan Agustus, pagelaran kesenian tradisional ini sering kali digelar oleh masyarakat untuk berbagai tujuan. Beberapa di antaranya adalah untuk memperingati Hari Ulang Tahun atau HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, hingga digunakan sebagai bagian dari peringatan sedekah bumi di berbagai daerah.
Dalam setiap pertunjukan wayang kulit, seorang dalang memiliki posisi yang sangat penting dan bertindak sebagai sutradara kunci. Sosok dalang inilah yang bertugas menggerakkan alur cerita dari awal hingga akhir serta memadukan seluruh elemen seni yang ada. Guna mendukung peran sentral tersebut, seorang dalang perlu memiliki seperangkat kemampuan yang mumpuni. Kemampuan yang harus dikuasai mencakup seni berbicara, seni bernyanyi, hingga keahlian dalam menampilkan peran yang sesuai dengan karakter tokoh yang sedang diceritakan. Salah satu dalang yang saat ini memiliki daya tarik tersendiri di mata penonton adalah Ki Eko Suwaryo. Dalang ini dikenal luas selalu menyajikan pertunjukan wayang kulit dalam gaya khas yang disebut sebagai gagrak Banyumasan atau Pakeliran.








