Pasca-gempa Flores yang terjadi pada 15 Agustus 2026, Puskesmas Rawat Inap Palue di Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, memegang peran krusial sebagai fasilitas pelayanan utama sekaligus pusat koordinasi dan rujukan korban. Di tengah beban penanganan medis tersebut, puskesmas kepulauan ini harus beroperasi dengan keterbatasan personel dan ketiadaan dokter tetap.
Selama masa tanggap darurat, tercatat sedikitnya 15 pasien terkait bencana menjalani rawat inap di Puskesmas Palue. Tujuh pasien di antaranya mengalami luka di kepala, patah tulang, serta cedera akibat benturan sehingga harus dirujuk ke Maumere. Proses rujukan dilakukan menggunakan helikopter untuk lima pasien dan jalur transportasi reguler untuk dua pasien lainnya. Kepala Puskesmas Rawat Inap Palue, Maria Mardiana Ngole, menyampaikan bahwa seluruh pasien yang dirujuk ke Maumere berasal dari wilayah kerja Puskesmas Tuanggeo yang terdampak paling parah. Puskesmas Palue juga sempat merawat dua pasien dengan penyakit penyerta asal wilayah Rokirole dan Ladolaka.
Polisi Bongkar Jaringan Pemalsuan SIM di Riau, Delapan Orang Ditangkap

Pelayanan kegawatdaruratan tersebut dijalankan dengan kapasitas staf yang belum ideal. Saat ini Puskesmas Palue hanya memiliki 42 tenaga kesehatan aktif yang berstatus PNS, PPPK, dan PPPK paruh waktu, sementara kebutuhan ideal fasilitas rawat inap tersebut mencapai 60 hingga 65 tenaga. Ketiadaan dokter tetap membuat nakes setempat mengandalkan koordinasi via telepon dengan dokter di Puskesmas Tuanggeo ketika membutuhkan konsultasi medis.
Untuk pasokan logistik dan obat-obatan, Maria memastikan kebutuhan selama masa darurat terpenuhi berkat suplai rutin dari Dinas Kesehatan dan dukungan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Penanganan medis juga terbantu penugasan 16 relawan Kementerian Kesehatan gelombang ketiga di Palue, di mana Puskesmas Palue mendapat alokasi satu dokter, satu perawat, dan satu fisioterapis. Kehadiran relawan tersebut membuat ruang UGD dialihfungsikan sementara sebagai tempat menginap tenaga medis, sedangkan pelayanan UGD digeser ke tenda darurat.
Pengedar Narkoba di Bekasi Ditangkap, Sabu dan Ekstasi Disita

Penugasan relawan Kemenkes tersebut dijadwalkan berakhir pada 20 September 2026. Menghadapi berakhirnya masa bantuan, Tokoh Pemuda Palue Wiliam Toka meminta Pemerintah Kabupaten Sikka untuk segera menyediakan dokter tetap agar kepastian layanan kesehatan masyarakat di Kecamatan Palue tetap terjaga.






