Pemerintah memberikan izin bagi masyarakat terdampak gempa bumi Magnitudo 7,7 di Kabupaten Manggarai untuk membangun Hunian Sementara (Huntara) secara mandiri atau swadaya. Pilihan ini dapat diambil warga dengan catatan pembangunan tetap mengikuti standar teknis keselamatan dan melalui proses pendataan resmi.
Direktur Rehabilitasi dan Rekonstruksi Perumahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Brigjen TNI Mochamad Arief Hidayat, menjelaskan skema tersebut di Pos Komando Tanggap Bencana Kabupaten Manggarai, Senin (14/9/2026). Warga yang hendak membangun huntara secara swadaya diminta berkoordinasi langsung dengan aparatur setempat.
Alur pelaporan huntara mandiri dilakukan secara berjenjang. Warga melapor terlebih dahulu kepada pemerintah desa, yang kemudian meneruskan data ke pihak kecamatan hingga tercatat di BPBD Kabupaten Manggarai. Masyarakat yang belum masuk daftar penerima bantuan hunian juga dapat mengajukan pengaduan lewat pemerintah desa maupun dinas terkait, seperti Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman.
Polres Sumba Barat Ungkap Jaringan Pencurian Ternak, 3 Tersangka Ditangkap

Ketentuan Teknis dan Pemeriksaan Bangunan
BNPB menetapkan sejumlah ketentuan fisik bagi huntara yang dikerjakan secara swadaya. Luas bangunan minimal berukuran 6 x 4 meter. Atap hunian diwajibkan memakai seng, sementara dinding diperbolehkan memanfaatkan bahan lokal yang mudah dijangkau, seperti kayu, tripleks, papan, atau bambu.
Selain itu, lantai hunian tidak dianjurkan berupa tanah terbuka langsung, melainkan harus dilapisi alas atau material yang layak guna menjamin keamanan dan kenyamanan penghuni. Seluruh bangunan mandiri tersebut nantinya diperiksa langsung oleh tim teknis untuk memverifikasi standar keamanan struktur sekaligus mengkaji kebutuhan anggarannya.
Kebakaran 26 Gudang di Kosambi Tangerang Meluas, Api Masih Berkobar

Kepastian tempat tinggal sementara menjadi kebutuhan mendesak bagi para korban di lapangan. Salah satu penyintas, Elisabeth Daus (54), warga Carep, Kelurahan Carep, Kabupaten Manggarai, kehilangan tempat tinggal setelah rumahnya roboh diguncang gempa. Saat ini ia harus bertahan di penampungan darurat bersama lima anak dan kakak iparnya sembari menanti realisasi hunian yang lebih aman.






