Ajang balap motor dunia MotoGP bersiap untuk kembali digelar pada 9 hingga 11 Oktober 2026 di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB). Momentum ini bukan sekadar ajang olahraga internasional, melainkan juga katalisator ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat setempat. Kepala Badan Pengaturan (BP) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekaligus COO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Dony Oskaria, menargetkan perputaran ekonomi dari gelaran tahun 2026 ini mampu mencapai angka Rp 5 triliun. Harapan besar ini disampaikan secara resmi melalui unggahan akun Instagram @bumn_id pada hari Kamis, 30 Juli 2026. Bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta masyarakat lokal, proyeksi ekonomi ini merupakan peluang emas yang memerlukan persiapan matang agar manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal.
Untuk mengambil bagian dalam perputaran uang yang masif tersebut, langkah pertama yang perlu dilakukan oleh para pelaku usaha adalah menjadikan data kesuksesan gelaran sebelumnya sebagai landasan strategi bisnis. Sebagai gambaran, efek pengganda atau multiplier effect dari penyelenggaraan MotoGP Mandalika pada tahun 2025 tercatat sukses mencapai Rp 4,96 triliun. Dengan melihat tingginya perputaran uang pada edisi sebelumnya, para pemilik usaha dapat mulai memproyeksikan kebutuhan modal tambahan, meningkatkan kapasitas produksi harian, dan merancang jenis layanan yang paling relevan dengan kebutuhan para pengunjung yang akan memadati kawasan Lombok dan sekitarnya.
Langkah kedua dalam memaksimalkan peluang ini adalah menyesuaikan produk atau jasa dengan profil demografi pengunjung yang hadir. Berdasarkan data demografi penonton pada ajang tahun 2025, tercatat sebanyak 84 persen penonton berasal dari berbagai wilayah di dalam negeri, sementara 16 persen sisanya merupakan wisatawan mancanegara. Informasi persentase ini sangat krusial bagi pelaku usaha di sektor kuliner, kerajinan tangan, akomodasi penginapan, dan jasa transportasi untuk merumuskan strategi penetapan harga serta variasi produk. Menyediakan pilihan menu atau layanan yang sesuai dengan selera domestik sekaligus memenuhi standar internasional akan menjadi daya tarik tersendiri bagi kedua kelompok wisatawan tersebut.
Top! Kredit UMKM Bank BPD Bali Tumbuh 14,52% Hingga Agustus 2026

Langkah ketiga adalah secara proaktif mendaftarkan diri agar dapat terlibat langsung dalam ekosistem kemitraan resmi yang dibangun oleh pihak penyelenggara. Pada ajang tahun 2025 lalu, penyelenggaraan acara ini terbukti mampu menyerap lebih dari 3.000 tenaga kerja lokal serta secara langsung melibatkan sekitar 600 UMKM. Menjelang gelaran tahun 2026, Danantara tengah mengoordinasikan sinergi lintas BUMN guna menyokong kinerja Injourney Tourism Development Corporation (ITDC) dan InJourney selaku penyelenggara acara. Oleh karena itu, para pelaku usaha lokal harus terus memantau informasi pendaftaran kemitraan agar produk mereka dapat lolos kurasi dan dipasarkan langsung di dalam area sirkuit.
Langkah keempat adalah memanfaatkan besarnya eksposur promosi skala global yang senantiasa dihasilkan oleh ajang balap internasional ini. Gelaran MotoGP Mandalika tahun 2025 telah terbukti menghasilkan Advertising Value Equivalent senilai €361,6 juta dan berhasil menjangkau audiens di lebih dari 200 negara. Pelaku usaha lokal dapat memanfaatkan momentum luar biasa ini dengan cara memperkuat kehadiran digital mereka jauh sebelum balapan dimulai pada bulan Oktober. Strategi promosi kreatif di media sosial yang mengaitkan produk lokal dengan kemeriahan balapan Mandalika berpotensi besar untuk menarik perhatian audiens global maupun wisatawan yang sedang menyusun rencana perjalanan ke NTB.
Gempa M 5,9 Terjadi di Kepulauan Seribu, LRT Jabodebek Beroperasi Normal

Langkah terakhir yang tidak kalah penting adalah mengantisipasi berbagai tantangan operasional dengan melakukan perencanaan logistik secara cermat dan terukur. Dony Oskaria menyatakan bahwa pihak ITDC dan MGPA memiliki beban persiapan yang cukup besar demi memastikan kelancaran acara tersebut. Mengingat tingginya kompleksitas persiapan di tingkat penyelenggara, para pelaku usaha mandiri juga dituntut untuk memiliki rencana cadangan yang solid terkait rantai pasok bahan baku dan kesiapan staf pelayanan. Persiapan operasional yang matang ini sangat krusial untuk menghindari kendala kehabisan stok atau penurunan kualitas layanan saat lonjakan jumlah wisatawan benar-benar terjadi pada 9-11 Oktober 2026 mendatang.






