Ketersediaan air bersih kini menghadapi tantangan baru seiring dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi digital global. Air merupakan salah satu elemen utama yang menopang pertumbuhan ekonomi digital serta perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Isu krusial mengenai keterkaitan antara infrastruktur digital dan ketersediaan air ini secara khusus disoroti oleh Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Isu Air, Retno Marsudi. Sosok yang juga dikenal sebagai mantan Menteri Luar Negeri tersebut menggarisbawahi bahwa pemanfaatan teknologi yang masif tidak dapat dilepaskan dari daya dukung sumber daya alam. Perkembangan pesat di sektor teknologi membawa konsekuensi langsung terhadap peningkatan penggunaan air, yang selama ini mungkin belum banyak disadari oleh masyarakat luas maupun para pelaku industri.
Peringatan mengenai tingginya tingkat konsumsi air di sektor teknologi ini disampaikan oleh Retno Marsudi dalam forum Indonesia Net Zero Summit 2026. Acara tersebut diselenggarakan di Balai Kartini, Jakarta Selatan, pada hari Sabtu (1/8/2026). Dalam pemaparannya, diungkapkan sebuah proyeksi bahwa perkembangan teknologi kecerdasan buatan diperkirakan mampu mendorong kenaikan kebutuhan air hingga mencapai 129 persen. Lonjakan drastis ini diprediksi akan terjadi di seluruh rantai nilainya. Persoalan ini menjadi semakin mendesak untuk diperhatikan mengingat kondisi infrastruktur pendukungnya. Saat ini, tercatat sekitar 40 persen dari total pusat data di dunia justru berada di kawasan yang mengalami tekanan ketersediaan air. Hal ini jelas memberikan beban tambahan bagi wilayah-wilayah yang pada dasarnya sudah rentan terhadap krisis air.
Dari Ponsel untuk UMKM, Telkomsel Enterprise Dorong Pemasaran Terukur

Tantangan lonjakan pemakaian air oleh industri digital ini muncul bersamaan dengan tren peningkatan kebutuhan air untuk kehidupan dasar manusia di masa depan. Berdasarkan proyeksi demografi, jumlah penduduk dunia diperkirakan akan terus bertambah hingga mencapai 9,7 miliar jiwa pada tahun 2050 mendatang. Pertumbuhan populasi yang sangat masif ini secara otomatis menuntut peningkatan penyediaan kebutuhan pokok. Untuk dapat memenuhi kebutuhan pangan seluruh penduduk tersebut, tingkat produksi pangan dunia dituntut harus meningkat sekitar 50 persen dibandingkan dengan kapasitas saat ini. Situasi ini menunjukkan bahwa sektor teknologi dan sektor pemenuhan kebutuhan dasar manusia pada akhirnya akan sama-sama bergantung pada sumber daya air yang ketersediaannya semakin terbatas.
Lebih jauh, gambaran mengenai besarnya kebutuhan air per kapita juga diuraikan melalui data dari Global Commission on the Economics of Water. Berdasarkan laporan dari lembaga tersebut, setiap orang membutuhkan sekitar 4.000 liter air setiap harinya agar dapat menjalani kehidupan yang layak. Angka 4.000 liter ini bukanlah sekadar air yang diminum atau digunakan untuk keperluan sanitasi semata. Jumlah tersebut merupakan akumulasi yang mencakup seluruh air yang dibutuhkan dalam proses memproduksi makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Selain itu, alokasi tersebut juga memperhitungkan air yang digunakan untuk memproduksi pakaian yang dikenakan, menghasilkan energi yang digunakan, serta memenuhi berbagai macam kebutuhan hidup sehari-hari lainnya.
Pertamina Dukung Ketahanan Energi Lewat Integrasi Portofolio LNG

Potensi terganggunya pasokan air bersih akibat kompetisi penggunaan ini tidak hanya akan memicu krisis lingkungan, tetapi juga berpotensi menciptakan efek domino yang merugikan. Jika pasokan air dunia terganggu, dampaknya tidak akan terbatas pada masalah ketahanan pangan saja. Gangguan pasokan air dapat menjalar dan berdampak serius pada ketahanan ekonomi, kesehatan masyarakat, bahkan hingga mengganggu sektor pendidikan. Selain itu, ketika air menghilang dari suatu kawasan, risiko terjadinya kebakaran hutan pun akan meningkat secara drastis. Oleh karena itu, pengelolaan air yang bijak dan berkesinambungan menjadi kunci utama untuk menyeimbangkan kebutuhan antara kemajuan teknologi dan pelestarian kehidupan umat manusia.






