Insiden terbaliknya Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9) dini hari memicu sorotan tajam terkait kelayakan operasional armada laut bekas. Kapal yang berlayar dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menuju Pelabuhan Trisakti Banjarmasin tersebut dilaporkan hilang kontak sekitar pukul 02.00 WITA setelah bertolak pada Sabtu (12/9).
Saat kecelakaan terjadi, kapal membawa 243 orang yang terdiri dari penumpang dan kru, serta memuat 89 unit kendaraan. Dari total korban tersebut, sebanyak 108 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat, 6 orang ditemukan meninggal dunia, sementara 129 penumpang lainnya masih dalam proses pencarian.
Perbedaan Karakter Desain dan Medan Operasional
Pakar Hidrodinamika dari Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof. Ir. I Ketut Aria Pria Utama, menilai peristiwa ini erat kaitannya dengan ketidaksesuaian desain kapal terhadap karakteristik perairan Indonesia. Secara keilmuan, usia kapal bukan kendala utama selama pemeliharaan berjalan baik. Namun, performa kapal di laut atau aspek seakeeping menjadi faktor krusial.
KM Virgo Transport 8 merupakan kapal bekas asal Jepang berusia 39 tahun dengan nomor identifikasi IMO 8625179. Dibangun pada 1987 oleh galangan Shin Kurushima Onishi Shipyard dengan nama awal Ferry Kurushima, kapal sepanjang 119 meter dan berbobot 4.277 GT ini beroperasi di Jepang sejak 1987 hingga pertengahan 2025 untuk rute Kokura–Matsuyama di Laut Pedalaman Seto.
Hasil OTT KPK di Kasus Mafia Tanah BPN, 8 Orang Jadi Tersangka, Sita Rp 106,3 Miliar

Perairan Seto berstatus laut tertutup yang terlindung oleh tiga pulau besar—Honshu, Shikoku, dan Kyushu—dengan kedalaman rata-rata hanya 38 meter. Sebaliknya, setelah diakuisisi PT Virgo Karya Shipping pada akhir 2025 dan mulai melayari rute Surabaya–Banjarmasin per Juli 2026, kapal harus berhadapan dengan Laut Jawa. Jalur ini merupakan laut lepas yang sangat terekspos angin monsun, arus kuat, serta gelombang berfluktuasi antara 1,5 hingga 2,5 meter.
Risiko Modifikasi Lambung dan Efek Permukaan Bebas
Prof. Ketut menjelaskan bahwa kapal feri jenis roll-on/roll-off (Ro-Ro) di negara empat musim umumnya dirancang dengan lambung tertutup rapat guna menahan suhu dingin. Namun, saat dialihkan ke perairan tropis Indonesia, lambung kapal kerap dimodifikasi dengan penambahan bukaan samping demi memangkas biaya pendingin ruangan (AC) dan menekan beban pajak ruang tertutup.
Modifikasi semacam itu berisiko fatal jika kapal diterpa ombak tinggi. Masuknya air dalam volume besar ke geladak kendaraan tanpa sokongan sistem pompa pembuangan yang memadai akan memicu efek permukaan bebas (sloshing effect). Genangan air yang bergerak bebas di dalam geladak membuat kapal seketika kehilangan stabilitas dan bergoyang tak terkendali.
25 Kecamatan di Tangerang Awas Kekeringan, 62.076 Jiwa Terdampak

Kondisi tersebut kian kritis apabila muatan kendaraan berat tidak diikat (lashing) secara kuat. Guncangan ombak dapat menggeser posisi kendaraan, yang kemudian mengubah titik pusat massa kapal secara drastis hingga mengakibatkan kapal miring dan terbalik.
Kendati faktor hidrodinamika dan perubahan fungsi lambung menjadi indikasi kuat, Prof. Ketut menegaskan bahwa kepastian penyebab musibah KM Virgo Transport 8 sepenuhnya bergantung pada hasil investigasi menyeluruh oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).






