Aktivitas digital di layar ponsel kini langsung terhubung dengan transaksi fisik di warung kelontong tradisional. Telkomsel Enterprise menghadirkan pendekatan retail media berbasis data guna mempertemukan promosi digital secara presisi dengan aksi belanja konsumen di tingkat pedagang eceran atau usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Solusi ini memadukan ekosistem periklanan DigiAds, teknologi pesan Rich Communication Services (RCS), jaringan mitra warung DigiPOS, serta sistem pengukuran berbasis atribusi tertutup (closed-loop measurement). Melalui integrasi ini, efektivitas kampanye promosi dapat dipantau langsung hingga ke titik pengambilan produk di toko fisik.
Integrasi Promosi Digital dan Gerai DigiPOS
Pendekatan pemasaran terukur ini telah diimplementasikan dalam kerja sama bersama merek Rinso dari Unilever Indonesia. Langkah tersebut diambil guna menjawab kendala distribusi dan ketersediaan produk di pasar tradisional Jawa Barat, wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan pasar signifikan namun sebaran produknya belum merata.
Rupiah Melemah ke Posisi Rp17.694 per Dolar AS pada Perdagangan Selasa

Dalam pelaksanaannya, DigiAds memanfaatkan first-party audience insight, data lokasi, kebiasaan belanja, dan afinitas kategori untuk memetakan kelompok konsumen sasaran. Konsumen yang memenuhi parameter menerima undangan interaktif lewat RCS untuk menukarkan sampel produk di warung-warung terdekat yang terdaftar dalam ekosistem DigiPOS.
Layanan ini diinisiasi di bawah koordinasi unit bisnis yang dipimpin oleh Mia Melinda selaku VP Corporate Innovation, Sustainability, Marketing, and Digital Advertising Telkomsel.
IHSG Ditutup Melemah 1,13 Persen ke Level 6.461 pada Selasa Sore

Realisasi Penjualan dan Efisiensi Akuisisi
Sepanjang pelaksanaan program, lebih dari 20.000 konsumen mendatangi warung DigiPOS untuk mengambil dan mencoba sampel produk. Kampanye ini berkontribusi pada kenaikan penjualan sektor perdagangan umum (General Trade) sebesar 27 persen di area Jawa Barat.
Selain mendongkrak distribusi, program tersebut membukukan tingkat niat membeli (purchase intent) hingga 100 persen di antara konsumen yang menguji sampel produk. Dari sisi anggaran pemasaran, biaya perolehan pelanggan atau Cost Per Acquisition (CPA) tercatat 29 persen lebih rendah dibandingkan angka acuan kampanye sejenis di industri barang konsumen bergerak cepat (FMCG).






