PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) tengah memproses sejumlah portofolio rencana akuisisi yang saat ini masih berada dalam tahap uji tuntas (due diligence). Emiten sektor energi ini menargetkan realisasi sedikitnya satu transaksi akuisisi pada 2027 mendatang dengan menitikberatkan pada kualitas aset.
Dalam paparan publik perseroan, manajemen mengungkapkan fokus utama ekspansi dalam 2 hingga 3 tahun ke depan diarahkan pada aset-aset yang telah aktif berproduksi (producing assets). Langkah ini diambil guna meminimalkan risiko eksplorasi sekaligus memperkokoh kapabilitas keuangan perusahaan secara berkelanjutan.
Perkuat Modal Kerja Lewat Private Placement
Guna memuluskan rencana pengembangan usaha, perseroan telah mengantongi persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Independen untuk mengeksekusi penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (private placement) dengan menerbitkan hingga 10% saham baru.
Rupiah Melemah ke Posisi Rp17.694 per Dolar AS pada Perdagangan Selasa

Direktur Utama RATU Sumantri Suwarno menjelaskan bahwa perolehan dana dari aksi korporasi tersebut utamanya akan dialokasikan untuk memperkuat modal kerja (working capital). Kebutuhan modal kerja ini tergolong krusial mengingat perseroan secara rutin menghadapi panggilan modal (cash call) setiap tahunnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur RATU Adrian Hartadi menegaskan bahwa pelaksanaan private placement ini sejalan dengan komitmen yang telah dicantumkan dalam prospektus penawaran umum perdana saham (IPO), yaitu aktif melakukan pengembangan bisnis melalui akuisisi aset-aset yang sudah berproduksi.
Soal Proyek LRT City, BP BUMN dan Danantara Beri Catatan Penting ke Adhi Karya

Prospek Kinerja dan Kebijakan Dividen
Menyinggung mengenai imbal hasil kepada pemegang saham, manajemen RATU menyatakan belum menetapkan angka pasti terkait rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) untuk tahun buku 2026. Keputusan mengenai besaran dividen baru akan dimatangkan pada akhir tahun buku setelah melalui evaluasi menyeluruh terhadap kinerja operasional akhir tahun serta perencanaan anggaran periode berikutnya.
Sementara itu, di tengah proyeksi pergerakan harga minyak global yang diperkirakan melandai ke kisaran US$ 78 hingga US$ 80 per barel pada kuartal IV-2026, manajemen memandang RATU masih memiliki peluang menutup tahun 2026 dengan perolehan realisasi harga minyak yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pencapaian pada 2025.






