Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Selasa (15/9). Mata uang Garuda tersebut berada di level Rp17.694 per dolar AS, mengalami pelemahan sebesar 25 poin atau 0,14 persen dibandingkan penutupan perdagangan sesi sebelumnya.
Faktor Eksternal Penekan Pergerakan Rupiah
Pelemahan rupiah pada perdagangan kali ini dipengaruhi oleh dinamika pasar global. Analis DOO Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pergerakan mata uang Indonesia umumnya tertekan oleh serangkaian faktor eksternal.
Menurut Lukman, tekanan tersebut bersumber dari terus naiknya indeks dolar AS serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Selain itu, pasar juga dibayangi oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh peningkatan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Dari Ponsel untuk UMKM, Telkomsel Enterprise Dorong Pemasaran Terukur

Sentimen terhadap aset pasar berkembang kian tertekan akibat kekhawatiran pelaku pasar terkait kebijakan moneter bank sentral AS. Pasar tengah mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga acuan serta penegasan sikap hawkish dari Federal Reserve (The Fed).
Pelemahan Melanda Kawasan Asia dan Mata Uang Utama
Tekanan penguatan dolar AS tidak hanya berdampak pada rupiah, tetapi juga menekan mayoritas mata uang di kawasan Asia. Won Korea Selatan mencatatkan penurunan tertajam setelah melemah hingga 1,08 persen. Pelemahan turut dialami oleh yen Jepang yang terkoreksi 0,39 persen, dolar Singapura yang turun 0,18 persen, ringgit Malaysia yang melemah 0,16 persen, serta yuan China yang terdepresiasi 0,06 persen. Sementara itu, dolar Hong Kong terpantau bergerak datar, dan hanya peso Filipina yang mampu bergerak melawan tren dengan apresiasi sebesar 0,04 persen.
RATU Bidik Minimal Satu Akuisisi di 2027, Utamakan Aset Producing

Kondisi serupa terjadi pada kelompok mata uang utama dunia dan negara maju lainnya. Poundsterling Inggris dan dolar Australia masing-masing mengalami pelemahan sebesar 0,19 persen. Di saat yang sama, euro Eropa melemah 0,12 persen dan dolar Kanada terkoreksi tipis 0,01 persen. Sebaliknya, franc Swiss berhasil mempertahankan momentum penguatan terhadap dolar AS dengan naik sebesar 0,05 persen.






