Tantangan ketenagakerjaan di tingkat global saat ini kian dinamis seiring dengan adanya tekanan pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai negara. Fenomena ini tidak hanya dirasakan di dalam negeri, melainkan juga melanda negara tetangga seperti Singapura hingga raksasa ekonomi seperti China. Situasi tersebut dipicu oleh tingginya tingkat pengangguran serta perlambatan ekonomi secara global. Guna mengantisipasi dampak yang lebih luas, berbagai upaya penciptaan lapangan kerja baru yang berkualitas tinggi mulai menjadi fokus perhatian utama para pelaku industri di Indonesia.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) melihat peluang besar pada pengembangan industri perawatan, perbaikan, dan pemeriksaan atau yang dikenal sebagai maintenance, repair, and overhaul (MRO). Sektor ini dibidik untuk menjadi mesin baru dalam mencetak lapangan kerja dengan tingkat upah yang tinggi. Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam, menyampaikan pandangan tersebut dalam acara Konferensi Pers Pre Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) Apindo ke-35 pada Selasa, 28 Juli. Melalui pengembangan industri ini, diharapkan terjadi pergeseran profil pekerja domestik dari yang sebelumnya didominasi oleh peran operator pabrik biasa menjadi profesi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Peralihan peran pekerja menuju sektor MRO dinilai strategis untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja nasional. Dengan beralih ke industri MRO, para pekerja memiliki kesempatan untuk menempati posisi-posisi penting seperti teknisi, insinyur (engineer), hingga supervisor. Pekerjaan-pekerjaan ini membutuhkan keahlian khusus yang secara langsung akan berdampak pada peningkatan pendapatan mereka. Langkah ini diharapkan mampu mengubah peta ketenagakerjaan Indonesia dari yang semula bertumpu pada industri padat karya menuju industri bernilai tambah tinggi.
Top! Kredit UMKM Bank BPD Bali Tumbuh 14,52% Hingga Agustus 2026

Potensi pasar industri MRO di Indonesia tergolong sangat besar mengingat jumlah aset transportasi dan logistik yang beroperasi di dalam negeri sangat melimpah. Saat ini, Indonesia tercatat memiliki sekitar 600 pesawat komersial dan sekitar 2.000 pesawat kecil yang membutuhkan perawatan rutin. Di sektor transportasi darat, terdapat 15 juta hingga 20 juta kendaraan roda empat serta sekitar 150 juta unit sepeda motor. Sementara di sektor laut, terdapat sekitar 30 ribu kapal barang dan kapal nelayan yang juga memerlukan jasa pemeliharaan secara berkala. Seluruh aset ini menjadi ceruk pasar yang sangat menjanjikan bagi industri MRO nasional.
Untuk merealisasikan potensi tersebut, diperlukan dukungan regulasi yang kuat dan ekosistem ketenagakerjaan yang memadai. Oleh karena itu, Apindo mendorong agar pembahasan Undang-Undang Ketenagakerjaan tahun 2026 turut mencakup pembangunan ekosistem yang mendukung pendanaan serta pengembangan kompetensi tenaga kerja. Dengan adanya ekosistem yang terintegrasi, penyiapan tenaga kerja terampil untuk industri MRO dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.
Bahlil Sebut Perusahaan Asal Rusia Rusal Bakal Bangun Pabrik Pemurnian Bauksit di Kalimantan

Selain menyiapkan mesin pertumbuhan kerja baru, langkah antisipatif terhadap situasi ekonomi saat ini tetap berjalan. Apindo bersama dengan pemerintah dan organisasi pekerja saat ini tengah merumuskan sekitar 10 langkah mitigasi PHK. Langkah-langkah mitigasi ini dirancang dengan fokus utama pada pencegahan sejak tahap awal agar stabilitas industri dan kesejahteraan pekerja tetap terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global.






