Milisi Houthi mengambil langkah agresif dengan merebut kota pelabuhan Mokha di Yaman. Aksi militer yang berlangsung sejak Sabtu tersebut memicu kekhawatiran meluas akan kembalinya perang saudara skala penuh antara kelompok pemberontak tersebut dan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Eskalasi di Mokha terjadi di tengah ketegangan regional yang masih tinggi antara Amerika Serikat dan Iran, ditambah rangkaian gesekan bersenjata antara Houthi dan Arab Saudi. Pertempuran antara kelompok Houthi dan pasukan pemerintah Yaman dilaporkan kembali meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir, mengakhiri periode relatif tenang yang sempat berlangsung sekitar empat tahun. Seiring meningkatnya intensitas bentrokan, Houthi secara aktif memperluas dan memperkuat kendali mereka atas berbagai wilayah pesisir strategis Yaman.
Ancaman terhadap Rantai Pasok Energi Global
Jatuhnya Mokha ke tangan Houthi menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas ekonomi dunia. Kota pelabuhan ini berjarak sekitar 80 kilometer dari Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran vital yang menghubungkan perairan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Klub Jalur Sutra Dibentuk di RI untuk Perkuat Hubungan Indonesia dan China

Kawasan Laut Merah menjadi jalur alternatif pengiriman energi internasional yang sangat krusial, terutama ketika Selat Hormuz menghadapi penutupan. Gangguan keamanan di sekitar Mokha dan Selat Bab el-Mandeb dikhawatirkan dapat menghambat lalu lintas kapal tanker dan memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.
Klaim Keamanan Jalur Navigasi
Menanggapi kekhawatiran dunia internasional, juru bicara Houthi, Abdulsalam, menyatakan bahwa kebebasan navigasi dan aktivitas perdagangan internasional di Laut Merah maupun selat strategis tersebut tetap aman. Abdulsalam menegaskan bahwa operasi militer yang dilancarkan kelompoknya hanya ditujukan pada sasaran-sasaran tertentu, kendati ia tidak merinci target yang dimaksud.
Presiden Ini Izinkan Polisi Masuk Kampus jika Terjadi Demo Rusuh

Sebelum penguasaan Mokha, Houthi tercatat pernah melancarkan serangkaian serangan terhadap kapal-kapal internasional yang melintasi Laut Merah. Kelompok tersebut menyatakan bahwa operasi penyerangan kapal komersial itu dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Palestina di Gaza.






