Operasi militer pemerintahan Donald Trump terhadap Iran mulai memicu krisis keuangan internal yang berdampak langsung pada operasional militer Amerika Serikat. Laporan internal Pentagon mengungkap adanya defisit anggaran serius di tubuh Angkatan Laut AS (US Navy), yang berisiko mengganggu pembayaran gaji prajurit akibat pengalihan dana untuk membiayai operasi tempur luar negeri.
Dokumen internal Departemen Pertahanan AS yang diperoleh The Guardian, bersama pengakuan sejumlah pejabat militer dan kontraktor pertahanan, menunjukkan bahwa anggaran rutin terpaksa dikorbankan demi menopang intensitas pertempuran di Timur Tengah. Salah satu memo memperingatkan adanya ancaman kekurangan dana dalam pos daftar gaji militer.
Seorang pejabat Angkatan Laut yang mengetahui perencanaan alokasi dana secara blak-blakan menyebutkan bahwa anggaran gaji telah dipangkas demi mendanai kontingensi di luar negeri. Selain ancaman terhadap pembayaran gaji, dampak finansial ini sudah memicu penundaan sejumlah pekerjaan pemeliharaan non-darurat pada fasilitas militer berbasis pantai.
Beban Blokade Laut dan Serangan Balasan
Tekanan anggaran ini berakar dari eskalasi operasi gabungan AS dan Israel melawan Iran. Rangkaian pertempuran tersebut tidak hanya menguras persediaan amunisi secara drastis, tetapi juga memicu rentetan serangan balasan dari Iran ke pangkalan-pangkalan strategis milik AS di kawasan Timur Tengah.
BPS Ungkap Alasan Data Kemiskinan RI Versi Bank Dunia Melonjak 64%

Di saat bersamaan, Angkatan Laut AS harus menanggung biaya operasional yang sangat besar untuk mempertahankan blokade laut secara ekstensif. Meski pagu anggaran Angkatan Laut untuk tahun 2026 mencapai hampir US$300 miliar (sekitar Rp5.310 triliun), beban operasi laut skala penuh ini membuat kas institusi tersebut berada dalam tekanan berat.
Kepala Operasi Angkatan Laut AS Laksamana Daryl Caudle sebelumnya telah menyampaikan peringatan kepada Kongres mengenai krisis pembiayaan yang diproyeksikan mulai memuncak sekitar bulan Juli. Caudle mengkhawatirkan perlunya pengambilan keputusan mendesak yang berpotensi memangkas agenda latihan militer dan mengganggu kelancaran operasi rutin armada laut.
Pentagon Desak Dana Darurat Kongres
Menghadapi defisit yang kian melebar, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth secara terbuka mendesak Kongres untuk segera meloloskan paket pendanaan darurat. Menurut pemaparan Hegseth, perang dengan Iran sejauh ini telah menghabiskan anggaran sebesar US$35,7 miliar atau sekitar Rp631,9 triliun.
Nikmati Keringanan Pokok PBB-P2 Sebesar 5 Persen, Pembayaran Kini Bisa Lewat Kanal Digital

Sebagai langkah penanganan lebih luas, pemerintahan Trump mengajukan permohonan dana tambahan sebesar US$67 miliar (sekitar Rp1.185,9 triliun) untuk menopang seluruh pos Departemen Pertahanan yang terkuras.
Analis pertahanan Todd Harrison dari American Enterprise Institute menilai gejolak anggaran ini bukan hal baru bagi kalangan militer AS, melainkan isu internal yang selama ini tidak disuarakan ke publik. Menurutnya, jajaran internal militer sebenarnya telah menyadari pembengkakan biaya tersebut jauh sebelum krisis alokasi kas dan gaji prajurit ini mengemuka ke hadapan publik.






