berputar.id
BerandaRegionalNewsHukumBeritaSosialKesejahteraan SosialEkonomiEkonomi & BisnisNasionalDuniaMetroInternasionalOtomotifKeuanganKulinerEnergiKriminalGeneral NewsEkonomi & EnergiKesehatanPariwisataGaya HidupSains & TeknologiBerita UmumBerita UtamaBerita LokalBisnisMarketEdukasiOlahragaLingkunganTeknologiPolitik & HukumBerita NasionalHiburanPerjalanan & WisataCuacaSepak BolaPolitikTravelPopuler
Beranda/Kesehatan

Panduan Penggunaan Antibiotik, Fungsi, Risiko Resistensi, dan Efek Samping

Marthen TandirerungDiterbitkan 1 Agu 2026 - 18.30 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Panduan Penggunaan Antibiotik, Fungsi, Risiko Resistensi, dan Efek Samping
Foto/Ilustrasi: kumparan.com.
A-A+

Kebiasaan membeli obat secara mandiri saat tubuh terasa kurang sehat masih sering dijumpai di tengah masyarakat Indonesia. Salah satu jenis obat yang kerap dicari secara bebas adalah antibiotik. Berdasarkan data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, tercatat sebanyak 19,4% penduduk Indonesia pernah membeli antibiotik tanpa menggunakan resep untuk mengatasi gejala penyakit yang tergolong umum. Gejala-gejala umum tersebut meliputi batuk, pilek, sakit tenggorokan, hingga diare. Angka dari survei tersebut menunjukkan tingginya tingkat penggunaan antibiotik yang tidak tepat sasaran di tengah masyarakat.

Kurangnya pemahaman mengenai fungsi obat ini juga tecermin secara jelas dari data lain dalam survei yang sama. SKI tahun 2023 menunjukkan bahwa baru sekitar 28,7% masyarakat di Indonesia yang mengetahui fakta bahwa antibiotik sebenarnya hanya efektif untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Tingkat pemahaman yang masih tergolong rendah ini menjadi salah satu faktor utama yang memicu penggunaan obat secara keliru untuk berbagai keluhan ringan yang sebenarnya tidak membutuhkan penanganan dengan antibiotik.

berputar.id

Copyright 2026 berputar.id - All Rights Reserved.

Kategori

RegionalNewsHukumBeritaSosialKesejahteraan SosialEkonomiEkonomi & BisnisNasionalDuniaMetroInternasionalOtomotifKeuanganKulinerEnergiKriminalGeneral NewsEkonomi & EnergiKesehatanPariwisataGaya HidupSains & TeknologiBerita UmumBerita UtamaBerita Lokal

Secara definisi medis, antibiotik merupakan golongan obat yang bekerja secara spesifik dengan cara membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri di dalam tubuh. Obat ini bisa berasal dari sumber mikroorganisme alami maupun dibuat secara sintetis di laboratorium. Menurut sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Pharmacology pada tahun 2024, antibiotik memiliki beberapa mekanisme atau cara kerja utama untuk melumpuhkan bakteri penyebab penyakit. Mekanisme tersebut meliputi penghentian proses penggandaan DNA bakteri, penghambatan pembentukan protein yang sangat dibutuhkan bakteri untuk bertahan hidup, perusakan dinding sel bakteri, hingga penggangguan proses metabolisme asam folat pada bakteri.

Baca Juga

Strategi Memilih Mobil Hybrid Berdasarkan Tren Pasar Indonesia

Strategi Memilih Mobil Hybrid Berdasarkan Tren Pasar Indonesia

Dengan berbagai mekanisme kerja tersebut, antibiotik dirancang secara khusus untuk menyasar anatomi sel bakteri. Hal inilah yang membuat antibiotik sama sekali tidak mempan untuk melawan penyakit seperti flu, batuk, dan pilek yang kebanyakan disebabkan oleh virus, bukan bakteri. Secara biologis, virus memiliki struktur yang sangat berbeda dari bakteri. Virus sama sekali tidak memiliki dinding sel, tidak memiliki ribosom, serta tidak memiliki jalur metabolisme sendiri. Karena sasaran tembak utama yang biasa diincar oleh antibiotik tidak ada pada struktur virus, penggunaan obat ini untuk penyakit akibat virus menjadi sepenuhnya tidak efektif.

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat sasaran juga membawa risiko ancaman kesehatan yang sangat serius, yaitu memicu terjadinya resistensi antibiotik. Ketika antibiotik dikonsumsi secara sembarangan, bakteri yang ada di dalam tubuh mungkin tidak mati sepenuhnya. Bakteri yang belum mati ini kemudian dapat beradaptasi dan berubah menjadi lebih kebal terhadap pengobatan. Bakteri dapat melawan efek obat dengan berbagai cara, seperti memproduksi enzim khusus yang mampu merusak struktur antibiotik, atau dengan mengubah bentuk targetnya sendiri sehingga obat tidak lagi dapat mengenali bakteri tersebut. Kondisi ini membuat antibiotik yang sebelumnya ampuh menjadi tidak mempan lagi.

Baca Juga

Dampak Putusan MK terhadap Pemisahan Anggaran Program Makan Bergizi Gratis

Dampak Putusan MK terhadap Pemisahan Anggaran Program Makan Bergizi Gratis

Selain memicu risiko resistensi bakteri, konsumsi antibiotik juga memiliki dampak langsung terhadap ekosistem pencernaan manusia. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Chinese Medical Journal pada tahun 2019 menunjukkan bahwa antibiotik tidak hanya membunuh bakteri penyebab penyakit, tetapi juga ikut membasmi bakteri baik yang hidup di dalam usus. Ketika keseimbangan mikrobiota usus terganggu akibat matinya bakteri baik ini, tubuh dapat mengalami berbagai masalah kesehatan lanjutan. Gangguan keseimbangan tersebut terbukti dapat memicu terjadinya diare, berbagai masalah pencernaan, hingga membuat tubuh menjadi lebih rentan terkena infeksi jenis lain akibat menurunnya pertahanan alami di dalam usus.

Ikuti berputar.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

kesehatanantibiotikSurvei Kesehatan Indonesiaresistensi antibiotikefek samping

Berita Terbaru Lainnya

Kenaikan Lalu Lintas Tol BSD dan Makassar Dongkrak Kinerja Nusantara InfrastructureCara Menyikapi Pemulihan IHSG ke Level 6.000 di Tengah Aksi Jual AsingKinerja Keuangan Kementerian Sekretariat Negara dan Kontribusi Kawasan GBK Serta Kemayoran Tahun 2025Penyebab dan Dampak Penurunan Produksi Minyak Kayu Putih di IndonesiaPenyebab Pengembang Kesulitan Membangun Perumahan di Lahan yang Sudah DibeliPanduan Menggunakan Layanan Transbandara Rute Blok M-Bandara Soekarno-Hatta dengan Tarif BaruStrategi PTPN I Kembangkan Bioetanol dari Tetes Tebu untuk Ketahanan Energi dan Ekspor ASEANNilai Tukar Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.022 per Dolar AS pada Akhir Pekan

Paling Banyak Dibaca

Menganalisis Peluang Timnas Indonesia di Grup A Piala AFF 2026

Olahraga

Menganalisis Peluang Timnas Indonesia di Grup A Piala AFF 2026

1 Agu 2026

Skandal Korupsi Ekspor Durian Vietnam, Wakil Menteri Ditangkap

Internasional

Skandal Korupsi Ekspor Durian Vietnam, Wakil Menteri Ditangkap

30 Jul 2026

Panduan Membaca Pergerakan IHSG ke Level 6.236 dan Sentimen Pasar Global

Ekonomi

Panduan Membaca Pergerakan IHSG ke Level 6.236 dan Sentimen Pasar Global

1 Agu 2026

Harga Minyak Dunia Kembali Melemah di Tengah Rencana Koalisi Maritim Arab Saudi

Ekonomi

Harga Minyak Dunia Kembali Melemah di Tengah Rencana Koalisi Maritim Arab Saudi

1 Agu 2026

Kronologi Lengkap Kasus Pembunuhan Keluarga di Warakas dan Tuntutan Hukumnya

Hukum

Kronologi Lengkap Kasus Pembunuhan Keluarga di Warakas dan Tuntutan Hukumnya

1 Agu 2026

Cara Memahami Transisi Anggaran Program Makan Bergizi Gratis Pascaputusan MK

Nasional

Cara Memahami Transisi Anggaran Program Makan Bergizi Gratis Pascaputusan MK

1 Agu 2026

馃敟

Populer

  1. 1Menganalisis Peluang Timnas Indonesia di Grup A Piala AFF 2026Olahraga 路 1 Agu 2026
  2. 2Skandal Korupsi Ekspor Durian Vietnam, Wakil Menteri DitangkapInternasional 路 30 Jul 2026
  3. 3Panduan Membaca Pergerakan IHSG ke Level 6.236 dan Sentimen Pasar GlobalEkonomi 路 1 Agu 2026
  4. 4Harga Minyak Dunia Kembali Melemah di Tengah Rencana Koalisi Maritim Arab SaudiEkonomi 路 1 Agu 2026
  5. 5Kronologi Lengkap Kasus Pembunuhan Keluarga di Warakas dan Tuntutan HukumnyaHukum 路 1 Agu 2026
Bisnis
Market
Edukasi
Olahraga
Lingkungan
Teknologi
Politik & Hukum
Berita Nasional
Hiburan
Perjalanan & Wisata
Cuaca
Sepak Bola
Politik
Travel

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap