Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa aktivitas industri manufaktur di dalam negeri kembali mengalami pelemahan atau kontraksi. Indikator Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia tercatat berada pada level 49,8.
Dalam pembacaan indikator tersebut, angka PMI di bawah level 50 menunjukkan terjadinya penurunan pada aktivitas industri. Sementara itu, angka PMI yang berada tepat di level 50 mengindikasikan kondisi operasional industri yang berada pada titik stagnan.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyampaikan perkembangan indikator ekonomi tersebut dalam konferensi pers virtual Rapat Dewan Komisioner Bulanan Agustus 2026 pada Senin (7/9). Selain memaparkan kinerja manufaktur yang berada pada zona kontraksi, OJK mencatat laju inflasi Indonesia pada Agustus 2026 berada pada tingkat 3,19 persen secara tahunan (year-on-year).
IHSG Sesi I Menguat 0,84%, Parkir di Level 6.674,95

Tekanan Geopolitik dan Inflasi Global
Friderica mengingatkan bahwa ketahanan ekonomi nasional tetap harus mewaspadai tingginya risiko yang dipicu oleh ketidakpastian geopolitik global. Kondisi global tersebut terus memberikan tantangan bagi perekonomian domestik.
Menurut Friderica, konflik yang berlarut-larut di Iran dan masih tertutupnya Selat Hormuz telah memicu gangguan langsung pada jalur distribusi energi dunia. Gangguan pada rute logistik tersebut menyebabkan volatilitas harga minyak dan komoditas internasional, yang membuat tekanan inflasi global tetap berada di level tinggi.
Beban tekanan inflasi global tersebut kian diperberat oleh kondisi cuaca ekstrem, yakni fenomena El Nino yang berkepanjangan. Dampak dari El Nino tersebut telah memicu terjadinya kekeringan dan kebakaran hutan di berbagai kawasan.
Warga Usia 17 Tahun Bakal Otomatis Dapat Rekening Bank Berbasis NIK

Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Terjaga
Kendati aktivitas manufaktur melemah dan kondisi global dibayangi dinamika ketidakpastian, Friderica memastikan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan secara keseluruhan tetap terjaga.
Ketahanan ekonomi Indonesia secara umum juga masih menunjukkan kinerja yang kokoh. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tercatat sebesar 5,29 persen year-on-year (yoy). Kinerja ekonomi tersebut didukung oleh investasi, belanja pemerintah, serta konsumsi rumah tangga yang tetap kuat sebagai penopang utama.






