Tragedi kebakaran hebat melanda sebuah bangunan sekolah di Kota Bukavu, wilayah timur Republik Demokratik Kongo (DRC), pada Kamis (10/9/2026). Insiden mematikan tersebut menewaskan sedikitnya 17 orang, dengan sebagian besar korban merupakan anak-anak yang tengah berada di lingkungan sekolah.
Fasilitas medis di sekitar lokasi langsung disibukkan dengan penanganan puluhan korban. Sebuah pusat kesehatan setempat mengonfirmasi telah menerima sedikitnya 10 jenazah korban kebakaran. Sementara itu, rumah sakit lain di kawasan yang sama melaporkan kedatangan lebih dari 50 siswa terdampak, dengan 14 orang di antaranya dinyatakan meninggal dunia.
Hingga saat ini, pihak berwenang belum dapat memastikan penyebab pasti munculnya kobaran api yang menghanguskan gedung sekolah tersebut. Penyelidikan awal masih terkendala oleh situasi darurat pascakejadian.
Nekat Tempel 10 Kg Emas di Tubuh, WNA China Ditangkap di Bandara Bali

Perbedaan laporan terkait total korban jiwa masih terus berlangsung di lapangan. Hal ini terjadi lantaran data korban dihimpun secara terpisah oleh masing-masing fasilitas kesehatan berdasarkan jumlah jenazah yang mereka terima.
Koordinator aliansi pemberontak AFC/M23, Corneille Nangaa, menyampaikan kepada Reuters bahwa pihaknya belum mengantongi angka final korban insiden ini. Kendati demikian, ia memperkirakan sedikitnya sekitar 10 orang meninggal dunia akibat amukan api tersebut.
Kasus Korupsi di Areal PT Inhutani V Lampung, Kejagung Sita Uang Rp1 T

Kota Bukavu sendiri saat ini berada di bawah kendali kelompok pemberontak AFC/M23 yang disokong Rwanda. Kelompok bersenjata tersebut berhasil menguasai kota strategis di kawasan timur Kongo itu usai melancarkan operasi serangan kilat pada tahun lalu.






