Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat belakangan ini dinilai lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam negeri dibandingkan dengan gejolak perekonomian global. Kondisi pergerakan mata uang ini menjadi sorotan utama di kalangan pelaku pasar karena kinerja rupiah masih tercatat sebagai salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia. Fenomena fluktuasi mata uang ini terus dianalisis oleh berbagai pakar ekonomi untuk mengetahui sumber tekanan utamanya, guna memahami apakah pemicunya murni dari ketidakpastian pasar keuangan dunia atau justru dari kondisi fundamental di dalam negeri.
Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Dipo Satria Ramli, memaparkan analisis mendalamnya terkait proporsi tekanan yang sedang dialami oleh mata uang rupiah. Dalam pemaparannya pada forum CORE Midyear Economic Review yang diselenggarakan pada Rabu (29/7/2026), ia secara gamblang memperkirakan bahwa sebagian besar tekanan terhadap nilai tukar rupiah sebenarnya bersumber dari kondisi domestik. Berdasarkan perkiraan yang disampaikannya, sekitar 60 persen hingga 70 persen dari total tekanan terhadap pergerakan rupiah berasal dari faktor domestik. Sementara itu, faktor global diperkirakan hanya memberikan kontribusi tekanan sekitar 30 persen hingga 40 persen.
Menurut Dipo Satria Ramli, dominasi faktor domestik ini dapat terlihat secara jelas dari pergerakan nilai tukar rupiah yang tampak tertinggal apabila dibandingkan dengan mata uang negara-negara tetangga di kawasan Asia. Ia menjelaskan bahwa jika tekanan terhadap nilai tukar murni hanya berasal dari faktor global, maka seharusnya mata uang di seluruh kawasan Asia mengalami tren pelemahan dengan pola yang relatif serupa dan sejalan. Namun, dinamika pasar valuta asing saat ini justru menunjukkan kondisi yang berbanding terbalik antara Indonesia dan negara-negara tetangga di kawasan tersebut.
Jualan Robot, Pria Ini Punya Kekayaan Rp282 Triliun

Kondisi riil yang terjadi di pasar saat ini memperlihatkan tren yang sangat berbeda di beberapa negara Asia Tenggara. Mata uang dari negara tetangga seperti ringgit Malaysia, baht Thailand, hingga peso Filipina dilaporkan sudah mulai menunjukkan tanda-tanda penguatan terhadap dolar Amerika Serikat. Di saat mata uang negara lain mulai bangkit, nilai tukar rupiah masih terus tertahan di dalam tren pelemahan yang cukup panjang. Dipo menyebutkan bahwa beberapa laporan bahkan menempatkan rupiah ke dalam kelompok tiga mata uang dengan kinerja terburuk, yang semakin mengonfirmasi besarnya pengaruh sentimen internal.
Meskipun porsi pengaruhnya dinilai lebih kecil dibandingkan dengan sentimen dalam negeri, faktor eksternal atau global tetap diakui memberikan tekanan yang nyata terhadap stabilitas nilai tukar rupiah. Tekanan yang bersumber dari luar negeri ini terutama disalurkan melalui arah kebijakan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat, yakni Federal Reserve atau yang sering disebut The Fed. Kebijakan moneter yang diambil oleh The Fed memiliki dampak langsung terhadap dinamika arus modal global, yang pada akhirnya turut memengaruhi likuiditas serta memicu volatilitas aliran dana asing di pasar keuangan Indonesia.
Pasutri Hobi Dugem di Jakarta, Ternyata Hartanya Hasil Rampok

Beralih ke sisi domestik yang menjadi penyumbang tekanan terbesar, persepsi pelaku pasar terhadap independensi Bank Indonesia (BI) menjadi salah satu faktor krusial yang sangat memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. Kredibilitas bank sentral dalam menjalankan kebijakan moneternya secara mandiri selalu menjadi perhatian utama bagi para investor, baik domestik maupun asing. Pandangan atau persepsi pasar terhadap sejauh mana Bank Indonesia dapat beroperasi merumuskan kebijakan moneter tanpa adanya intervensi sangat menentukan tingkat kepercayaan investor terhadap aset-aset investasi berdenominasi rupiah.
Lebih lanjut, kekhawatiran di kalangan pelaku pasar keuangan juga dipicu oleh adanya perubahan tata kelola kelembagaan setelah berlakunya revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). Perubahan aturan dalam tata kelola ini secara nyata memunculkan kecemasan bagi sebagian pelaku pasar mengenai perluasan peran pemerintah. Terdapat kekhawatiran mendalam mengenai potensi munculnya dominasi fiskal atau fiscal dominance, di mana kebijakan fiskal yang dijalankan oleh pemerintah dinilai berpotensi menjadi lebih dominan dibandingkan dengan kebijakan moneter yang dijalankan oleh bank sentral. Sentimen-sentimen kekhawatiran dari dalam negeri inilah yang pada akhirnya memberikan bobot tekanan paling besar bagi pelemahan nilai tukar rupiah.






