PT Pertamina Patra Niaga menanggapi kemungkinan lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, seperti Pertamax hingga Pertamina Dex, yang berpotensi menyentuh kisaran Rp20.000 per liter menyusul eskalasi harga minyak mentah di pasar internasional.
Jika sebelum krisis geopolitik harga minyak mentah dunia berada di kisaran US$60 hingga US$70 per barel, kini harga acuan global tersebut telah kembali menembus level US$100 per barel. Pergeseran signifikan ini memberikan tekanan langsung pada struktur harga BBM komersial di dalam negeri.
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto menyatakan bahwa tarif BBM nonsubsidi berpeluang bertengger di rentang Rp18.000 hingga Rp20 ribuan per liter apabila harga komoditas minyak mentah dunia tidak kunjung melandai.
OJK Cabut Izin Usaha 13 BPR per September 2026, LPS Pastikan Pembayaran Dana Nasabah

"Kondisi pasar energi global saat ini menghadapi tekanan yang lebih berat akibat konflik di Timur Tengah," ujar Eko dalam acara media gathering di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Jumat (11/9). Ia menilai dampak krisis kali ini terhadap pasar energi global bahkan melampaui efek guncangan saat perang Rusia-Ukraina pecah.
Eko menjelaskan, salah satu pemicu utama ketidakstabilan pasokan adalah konflik yang berujung pada penutupan Selat Hormuz. Jalur perairan tersebut merupakan titik transit vital bagi distribusi energi internasional, sehingga gangguan di kawasan tersebut langsung mengerek harga dan menekan ketersediaan minyak global. Eko pun berharap harga minyak dunia dapat kembali mereda ke level US$60鈥揢S$70 per barel.
Pertamina Kejar Seluruh SPBU Salurkan B50 pada Akhir September

Data pasar menunjukkan tren penguatan harga minyak masih berlanjut. Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent pada perdagangan Jumat (11/9) naik US$1,05 atau sekitar 1 persen ke level US$108,68 per barel. Pada saat yang sama, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 95 sen atau sekitar 1 persen menuju angka US$103,45 per barel.
Kenaikan pada akhir pekan tersebut memperpanjang reli setelah kedua minyak acuan melonjak lebih dari 6 persen pada perdagangan Kamis (10/9). Secara mingguan, harga Brent dan WTI tercatat telah terkerek hampir 13 persen, mencatatkan kenaikan mingguan tertinggi sejak pekan yang berakhir pada 17 Juli.






