Pembangunan sebuah kota metropolitan yang dinamis dan berstatus global seperti Jakarta tidak boleh hanya diukur dari kemajuan infrastruktur fisik serta laju pertumbuhan ekonominya semata. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan kembali pentingnya menyeimbangkan aspek pembangunan fisik tersebut dengan pemeliharaan nilai-nilai kebudayaan lokal. Sebagai kota yang multikultural, multietnis, dan sangat terbuka, penguatan identitas budaya harus berjalan beriringan dengan karakter utama kota. Oleh karena itu, pemerintah daerah terus mendorong pelestarian kebaya agar menjadi salah satu pilar identitas budaya yang melekat erat pada kehidupan masyarakat Jakarta. Langkah strategis ini diambil guna memastikan bahwa arus modernisasi tidak menenggelamkan keunikan warisan leluhur bangsa.
Komitmen nyata untuk memperkuat akar budaya ini ditunjukkan melalui penyelenggaraan sebuah perhelatan kebudayaan besar yang bertajuk "Kharisma Batavia Menuju Jakarta". Acara yang diselenggarakan secara sukses oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berkolaborasi dengan Perhimpunan Kebayaku ini mengambil tempat di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta. Kegiatan seni budaya tersebut dirancang khusus sebagai ruang kolaborasi strategis antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat secara luas. Selain itu, perhelatan ini juga menjadi bagian penting dari rangkaian acara dalam menyambut hari jadi Kota Jakarta yang ke-500 pada tahun 2027 mendatang. Kehadiran berbagai tokoh penting dalam acara tersebut, mulai dari Gubernur Pramono Anung, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, hingga sejumlah duta besar dari negara-negara sahabat, semakin menegaskan adanya dukungan yang luas terhadap gerakan pelestarian busana tradisional ini di tengah transformasi Jakarta menjadi kota global yang modern.
Kejagung Ungkap Progres Penyitaan Aset Kasus Febrie Adriansyah

Dalam pernyataan resminya yang disampaikan pada hari Sabtu, 1 Agustus 2026, Pramono Anung menekankan pentingnya menjaga kelestarian kebaya secara bersama-sama oleh seluruh elemen masyarakat. Beliau mengingatkan bahwa kebaya merupakan warisan budaya takbenda yang telah mendapatkan pengakuan resmi dari UNESCO. Oleh karena itu, kesadaran dan kepedulian aktif dari masyarakat lokal untuk merawat warisan ini menjadi kunci utama agar identitas budaya tersebut tetap bertahan dan tidak punah ditelan zaman. Upaya pelestarian ini tidak hanya berfokus pada satu ragam busana saja, melainkan mencakup keragaman kebaya lintas etnis yang selama ini memperkaya kebudayaan Jakarta. Beberapa di antaranya meliputi kebaya Betawi, Enci, Jawa, Madura, hingga berbagai variasi kebaya khas dari daerah lain di seluruh penjuru Nusantara.
Sejalan dengan visi yang diusung oleh pihak pemerintah daerah, Ketua Perhimpunan Kebayaku, Nunun Daradjatun, turut menyampaikan pandangan filosofis mengenai esensi dari pembangunan sebuah kota besar. Dalam sambutannya, beliau menjelaskan bahwa meskipun nama Batavia kini telah berganti menjadi Jakarta, identitas kota tersebut tidak semata-mata dibentuk oleh konstruksi gedung-gedung pencakar langit ataupun jaringan jalan raya yang serba modern. Sebuah kota yang berkarakter kuat pada dasarnya dibangun di atas fondasi sejarah yang panjang, nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun antargenerasi, serta kebudayaan yang tetap hidup dan terus dipraktikkan oleh masyarakat Jakarta dan Betawi. Pada kesempatan yang sama, Pramono Anung juga memberikan apresiasi tinggi kepada Perhimpunan Kebayaku atas konsistensi dan dedikasi mereka dalam melestarikan kebaya melalui berbagai kegiatan kreatif yang secara aktif melibatkan masyarakat dari berbagai lintas generasi.
KPK Sebut Fahd Arafiq Residivis Korupsi, Pastikan Perberat Hukuman

Untuk mewujudkan visi pelestarian budaya tersebut secara nyata dan berkelanjutan, Pemprov DKI Jakarta telah menyusun langkah konkret dengan memanfaatkan berbagai fasilitas publik yang ada. Ruang-ruang publik yang strategis di wilayah ibu kota, seperti Balai Kota, kawasan bersejarah Kota Tua, Lapangan Banteng, hingga kawasan Maramis, kini dipersiapkan secara aktif untuk menggelar berbagai pertunjukan seni dan budaya tradisional. Melalui pemanfaatan ruang terbuka ini, pemerintah daerah memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi ekspresi kebudayaan masyarakat. Seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat dengan mudah mengakses, menikmati, serta berpartisipasi langsung dalam menjaga eksistensi kebaya sebagai bagian dari identitas budaya Jakarta yang senantiasa dinamis dan beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa harus kehilangan akar identitas aslinya.






