Gunung Merapi terus menunjukkan dinamika vulkanik yang aktif dalam beberapa waktu terakhir. Berdasarkan laporan berkala dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi atau BPPTKG Yogyakarta, dua kubah lava yang berada di kawasan puncak gunung api ini dilaporkan mengalami pembesaran volume secara signifikan. Laporan pemantauan rutin tersebut disusun berdasarkan hasil pengamatan komprehensif yang dilakukan oleh tim selama sepekan terakhir, tepatnya pada periode Jumat (24/7) hingga Kamis (30/7). Kepala BPPTKG Yogyakarta, Agus Budi Santosa, memaparkan rincian perkembangan aktivitas kubah lava tersebut dalam sebuah keterangan resmi yang disampaikan kepada publik pada hari Jumat (31/7/2026).
Sejumlah pertanyaan sering muncul di tengah masyarakat mengenai kondisi terkini gunung api tersebut. Salah satu pertanyaan utama adalah mengenai rincian pertambahan volume yang terjadi pada kedua kubah lava Gunung Merapi. Berdasarkan hasil analisis visual dan pengukuran terbaru, kedua kubah lava aktif di puncak menunjukkan adanya pertumbuhan volume yang bervariasi. Volume pada Kubah Barat Daya tercatat mengalami penambahan sekitar 2.000 meter kubik. Dengan penambahan ini, total volume kubah tersebut saat ini telah mencapai 4.021.200 meter kubik. Sementara itu, Kubah Tengah mengalami penambahan volume sekitar 600 meter kubik, sehingga total volumenya kini berada di angka 2.369.400 meter kubik. Di samping adanya pertumbuhan volume tersebut, pihak BPPTKG Yogyakarta juga mengungkap adanya peristiwa runtuhnya sebagian dari volume kubah lava Barat Daya di puncak gunung.
Masyarakat juga kerap menanyakan bagaimana kondisi suhu terkini pada kedua kubah lava tersebut. Pengamatan terhadap kondisi suhu kubah lava dilakukan oleh petugas menggunakan metode analisis foto termal yang akurat. Berdasarkan hasil analisis foto termal terbaru, suhu pada kedua kubah lava di puncak Gunung Merapi tersebut terukur berada di angka 243 derajat celsius. Pihak BPPTKG Yogyakarta menilai bahwa tingkat suhu pada kedua kubah lava ini relatif tetap atau stabil jika dibandingkan dengan hasil pengukuran yang telah dilakukan pada periode pengamatan sebelumnya.
Perkapi Usul RUU Kurator Masuk Prolegnas Prioritas di Rapat DPR

Pertanyaan selanjutnya yang sering diajukan berkaitan dengan laporan mengenai embusan asap dan guguran awan panas dari puncak gunung. Selama sepekan masa pengamatan tersebut, Gunung Merapi secara visual teramati mengeluarkan asap putih dengan intensitas yang bervariasi, mulai dari tipis hingga tebal. Ketinggian embusan asap putih ini tercatat berkisar antara 10 hingga 150 meter dari area puncak gunung. Selain embusan asap, aktivitas guguran juga masih terus terjadi. Tercatat telah terjadi sebanyak dua kali awan panas guguran dengan jarak luncur maksimal mencapai 2.000 meter. Aliran awan panas guguran tersebut teramati bergerak secara spesifik mengarah ke kawasan hulu Kali Boyong serta Kali Sat/Putih.
Bagaimana dengan rincian data kegempaan yang berhasil direkam oleh jaringan sensor di sekitar kawasan gunung? Aktivitas di dalam tubuh gunung terpantau melalui jaringan seismik yang dipasang oleh instansi terkait. Selama periode pengamatan ini, jaringan seismik berhasil merekam sebanyak 2 kali gempa Awan Panas Guguran (APG) dan 31 gempa Vulkanik Dangkal (VTB). Selain itu, terekam pula sebanyak 551 gempa Fase Banyak (MP), 4 gempa Low Frequency (LF), 647 gempa Guguran (RF), serta 12 gempa Tektonik (TT). Meskipun jumlah rekaman gempa ini masih tergolong cukup banyak, pihak BPPTKG melaporkan bahwa secara umum intensitas kegempaan pada minggu ini lebih rendah jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya.
4 WN Iran di Rudenim Pekanbaru Ditolak Final UNHCR, Tak Mau Pulang

Sebagai informasi penutup, banyak pihak yang menanyakan apa status aktivitas Gunung Merapi saat ini dan bagaimana kondisi suplai magmanya. Hingga saat ini, tingkat aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih ditetapkan secara resmi pada level SIAGA. Karakteristik aktivitas vulkanik gunung api ini masih berada pada tingkat yang cukup tinggi, yang secara visual diwujudkan dalam bentuk erupsi efusif. Berdasarkan seluruh data pemantauan yang dikumpulkan, indikasi kuat menunjukkan bahwa proses suplai magma masih terus berlangsung di dalam sistem vulkanik gunung tersebut.






