Program Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Lampung hadir sebagai solusi nyata bagi keluarga kurang mampu yang ingin menyekolahkan anak-anak mereka. Program yang merupakan inisiatif Presiden Republik Indonesia ini dirancang secara khusus untuk menjangkau anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah, terutama mereka yang terpaksa putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi. Dengan menyediakan jenjang pendidikan yang lengkap mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), program ini membuka akses pendidikan berkualitas. Bagi orang tua yang berniat memanfaatkan program ini, terdapat beberapa tahapan dan informasi penting yang perlu dipahami.
Langkah pertama bagi orang tua adalah memahami sasaran utama penerima manfaat serta kapasitas tampung sekolah. Program pendidikan ini diprioritaskan bagi anak-anak dari kalangan keluarga prasejahtera yang sangat membutuhkan akses pendidikan. Sebagai gambaran perkembangan sekolah, pada tahun pertamanya institusi ini menerima 71 siswa. Kini, di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Asis Prasetyo, jumlah peserta didik telah berkembang pesat menjadi 401 siswa. Jumlah tersebut terdiri atas 60 siswa SD, 150 siswa SMP, 120 siswa SMA, serta ditambah 71 siswa dari angkatan pertama.
Tahap selanjutnya adalah mengenali berbagai fasilitas penunjang yang akan didapatkan anak secara gratis. Untuk memastikan setiap peserta didik dapat fokus belajar tanpa membebani biaya harian keluarga, sekolah menyediakan fasilitas tinggal di asrama secara penuh. Seluruh siswa juga berhak mendapatkan seragam sekolah, perlengkapan belajar, serta dukungan penuh untuk pembelajaran digital. Selain itu, kebutuhan gizi anak sangat terjamin karena pihak sekolah menyediakan layanan makan berat tiga kali sehari dan tambahan makanan ringan sebanyak dua kali sehari.
Legislator Minta Pemerintah Naikkan Indeks Bantuan Program Indonesia Pintar

Orang tua juga perlu mengetahui sistem pendidikan dan pembentukan karakter yang diterapkan selama anak berada di sekolah. Kurikulum yang digunakan mengacu pada Kurikulum Nasional yang dipadukan dengan penguatan karakter melalui sistem asrama. Dalam kegiatan belajarnya, sekolah menanamkan kearifan lokal melalui filosofi Lampung Piil Pesenggiri, yang juga mencakup nilai Nemui Nyimah, Sakai Sambayan, dan Nengah Nyappur. Program ini berjalan dengan berpegang pada trilogi pendidikan, yaitu Memuliakan Wong Cilik, Menjangkau yang Belum Terjangkau, dan Memungkinkan yang Tidak Mungkin.
Hal penting lainnya yang wajib dipahami oleh orang tua dan calon siswa adalah aturan kedisiplinan yang berlaku di lingkungan sekolah. Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Lampung menerapkan kebijakan tanpa toleransi terhadap segala bentuk perundungan. Pihak sekolah juga menindak tegas segala jenis kekerasan fisik maupun seksual, serta tidak menoleransi adanya praktik intoleransi dan radikalisme. Pemahaman terhadap aturan ketat ini sangat diperlukan agar anak dapat beradaptasi di lingkungan belajar yang aman dan saling menghargai.
1.121 BMN Buat Sekolah Rakyat-3 Juta Rumah, Negara Hemat Triliunan!

Setelah memahami berbagai ketentuan tersebut, calon siswa yang diterima akan mengikuti tahapan awal melalui Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Sebagai contoh pelaksanaan, peresmian Tahun Ajaran 2026/2027 diselenggarakan bertepatan dengan acara Open House di Kota Baru, Lampung Selatan pada Jumat, 31 Juli 2026. Dalam acara tersebut, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal secara simbolis menyematkan atribut kepada perwakilan calon siswa sebagai tanda dimulainya masa pengenalan. Kegiatan ini juga diisi dengan penampilan Tari Sigeh Pengunten oleh para siswa sebagai wujud pelestarian budaya daerah.
Untuk memberikan motivasi kepada anak sebelum memulai pendidikan, orang tua dapat menceritakan keberhasilan para siswa yang telah lebih dahulu menempuh pendidikan di sekolah ini. Salah satunya adalah Muhammad Ridwan Pratama, siswa kelas IX asal Sukaraja yang merupakan anak seorang buruh bengkel. Setelah masuk ke sekolah ini, ia berhasil meraih medali emas dalam kejuaraan karate dan kini berani bercita-cita menjadi seorang chef untuk memberangkatkan kedua orang tuanya umrah. Kisah lain datang dari Dewi Bunga Lestari, calon siswi asal Pringsewu yang sempat putus sekolah selama dua tahun akibat masalah biaya. Melalui program ini, ia dapat kembali mengejar mimpinya untuk menjadi anggota Polri dan menargetkan beasiswa pendidikan ke Turki.






