Kesiapan menghadapi potensi kebakaran di lingkungan sekitar kian krusial menyusul tingginya frekuensi insiden darurat api. Data Nasional Pemadam Kebakaran Ditjen Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri mencatat sebanyak 20.427 kasus kebakaran melanda Indonesia sepanjang 2024, di tengah keterbatasan jumlah personel pemadam yang hanya mencapai 50.417 orang secara nasional.
Untuk menangani insiden pada tahap awal sebelum api meluas, penggunaan selimut api atau fire blanket menjadi salah satu alternatif mitigasi mandiri yang praktis. Terbuat dari serat fiberglass yang tahan panas tinggi, peranti ini bekerja dengan menyelimuti titik api secara rapat guna menghentikan suplai oksigen seketika.
Kebakaran TPAS Galuga Meluas hingga 7,1 Hektare, Bupati Bogor Ungkap Bara Masih Menyala

Perwakilan PT Wahana Safety Indonesia, Fransiscus, memaparkan bahwa fire blanket memiliki keunggulan praktis karena tidak meninggalkan residu dan tidak perlu dicelupkan ke dalam air sebelum dibentangkan. Jika materialnya tidak mengalami kerusakan pascapemadaman, selimut ini dapat dilipat kembali ke wadahnya untuk pemakaian berikutnya.
Perangkat proteksi dini ini tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari 1,2 x 1,8 meter hingga 1,8 x 1,8 meter untuk kebutuhan dapur rumah tangga dan area industri ringan dengan patokan harga mulai Rp150 ribu. Adapun untuk mitigasi khusus pada armada kendaraan listrik, ukuran fire blanket disyaratkan minimal 6 x 8 meter guna menutup seluruh dimensi kendaraan.
Korban Gempa NTT Nyaris Sebulan Tidur Tanpa Terpal dan Selimut

Kebutuhan alat proteksi mandiri ini sejalan dengan urgensi keselamatan di lingkungan aktivitas kerja dan hunian. Catatan BPJS Ketenagakerjaan menunjukkan adanya 319.224 klaim kecelakaan kerja sepanjang 2025, dengan 9.834 kasus di antaranya merupakan insiden fatalitas yang menuntut langkah antisipasi dini yang lebih sigap.






