Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan pada perdagangan awal pekan. Pada penutupan perdagangan Senin (7/9/2026), IHSG berakhir di zona merah dengan pelemahan 16,81 poin atau 0,25 persen ke level 6.619,67.
Memulai perdagangan dari posisi pembukaan 6.652,09, IHSG sempat bergerak menguat dan menyentuh level tertinggi hariannya di 6.667,75. Namun, indeks kemudian berbalik arah hingga menyentuh titik terendah di level 6.610,93 menjelang akhir sesi. Aktivitas pasar mencatatkan volume transaksi sebesar 35,51 miliar saham, nilai transaksi mencapai Rp13,67 triliun, dan frekuensi perdagangan sebanyak 2,12 juta kali. Sebanyak 348 saham melemah, 300 saham menguat, dan 315 saham lainnya bergerak mendatar.
Pelemahan indeks terutama didorong oleh koreksi pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Bank Central Asia (BBCA) menjadi beban terberat IHSG dengan kontribusi penurunan 9,39 poin, disusul Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang menekan 7,76 poin, dan Bank Mandiri (BMRI) sebesar 3,47 poin. Tekanan jual juga datang dari Merdeka Gold Resources (EMAS) sebesar 2,23 poin, Maha Properti Indonesia (MPRO) 1,44 poin, serta Bank Negara Indonesia (BBNI) 1,40 poin.
Bandel di Pasar Modal, OJK Beri Sanksi Rp104 Miliar ke 113 Pihak

Di tengah pelemahan indeks, saham sektor tambang dan energi menahan koreksi lebih dalam. Bumi Resources (BUMI) tampil sebagai penopang utama dengan sumbangan kenaikan 5,47 poin, diikuti Bayan Resources (BYAN) 3,03 poin, dan United Tractors (UNTR) 1,81 poin. Penguatan juga ditopang oleh Adaro Andalan Indonesia (AADI) sebesar 1,74 poin dan Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) sebesar 1,61 poin.
Berdasarkan pergerakan sektoral, penurunan terdalam dipimpin oleh sektor properti yang anjlok 0,92 persen, disusul sektor keuangan yang melemah 0,89 persen, utilitas turun 0,59 persen, dan bahan baku terkoreksi 0,26 persen. Sebaliknya, sektor kesehatan mencatatkan penguatan tertinggi sebesar 1,17 persen, disusul energi 0,54 persen, industri 0,20 persen, teknologi 0,03 persen, konsumer non-primer 0,03 persen, dan konsumer primer 0,02 persen. Sentimen terkait erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian pelaku pasar yang mengalirkan minat ke saham-saham dengan eksposur produk kesehatan dan masker.
Paylater Bank Tumbuh 31,22% YoY pada Juli 2026, Lampaui Pertumbuhan Kredit Nasional

Dari aktivitas pelaku pasar global, aksi jual bersih asing tercatat sebesar Rp424,06 miliar hingga perdagangan sesi I, dengan total foreign buy Rp1,84 triliun dan foreign sell Rp2,26 triliun. Tekanan jual asing terbesar melanda PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan net sell Rp81,67 miliar, diikuti BBCA (Rp73,14 miliar), CUAN (Rp66,06 miliar), BBRI (Rp65,58 miliar), serta KLBF (Rp60,01 miliar). Di sisi lain, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membukukan net foreign buy terbesar mencapai Rp218,87 miliar dengan volume sekitar 998,13 juta saham.






