Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi memperpanjang masa tanggap darurat penanganan bencana gempa bumi di Pulau Flores selama 14 hari, terhitung sejak 29 Agustus hingga 12 September 2026.
Keputusan ini ditetapkan Gubernur NTT Melki Laka Lena usai menggelar rapat koordinasi penanganan bencana di Posko Tanggap Darurat BPBD Kabupaten Ende pada Kamis (27/8/2026) malam. Rapat tersebut dihadiri jajaran Wakil Gubernur NTT, Ketua DPRD NTT, unsur Forkopimda, para bupati dari wilayah terdampak gempa, serta pimpinan perangkat daerah terkait.
Perpanjangan status tanggap darurat diambil berdasarkan evaluasi kondisi lapangan, tingginya kebutuhan logistik dan pemulihan warga, serta intensitas gempa susulan yang masih terus tercatat di sejumlah titik Pulau Flores usai gempa utama bermagnitudo 7,7.
Dentuman Keras & Kilatan Cahaya di Gorontalo, BMKG, Bukan Gempa

Melki menegaskan bahwa perpanjangan masa tanggap darurat tidak menghentikan roda pemerintahan maupun pelayanan publik. Seluruh fasilitas dasar tetap berjalan bertahap dengan memprioritaskan keselamatan warga dan aparatur, termasuk larangan menggunakan bangunan yang dinyatakan rusak secara struktural.
Di sektor pendidikan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT diarahkan segera mengonsolidasikan skema belajar untuk jenjang SMA, SMK, dan SLB. Pembelajaran dapat memanfaatkan gedung sekolah yang aman, ruang darurat, maupun konsep sekolah lapangan. Sementara untuk jenjang PAUD, SD, dan SMP pengelolaannya dikoordinasikan langsung oleh pemerintah kabupaten masing-masing.
Bantuan 19 Ton Dikirim untuk Korban Gempa NTT

Guna mendukung penanganan darurat dan logistik, pemerintah pusat menyiapkan alokasi anggaran sebesar Rp40 miliar untuk Pemprov NTT serta Rp20 miliar bagi masing-masing kabupaten terdampak.
Di lapangan, penanganan darurat pada hari ke-14 operasi SAR juga mencakup evakuasi medis darurat. Tim SAR Gabungan mengerahkan helikopter Dauphin milik Basarnas untuk mengevakuasi empat warga dari Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, yang menderita komplikasi kesehatan seperti stroke, asma, sesak napas, dan pusing berat. Helikopter mendarat di Bandara Komodo, Labuan Bajo, pada Kamis pukul 13.11 WITA sebelum seluruh pasien dilarikan menggunakan ambulans ke RSUD Pratama Komodo.






