Muhammad Rafki Razif Kiransyah telah menjalani 24 hari di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai relawan Hands Foundation untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada warga terdampak gempa bumi. Berangkat dari Jakarta dan tiba di Labuan Bajo pada 17 Agustus 2026, pria berlatar belakang jurnalis ini langsung bergerak ke sejumlah titik bencana. Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), aktivitas seismik di NTT tergolong masif dengan 14.236 gempa susulan yang tercatat usai gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7.
Menyalurkan bantuan logistik ke daerah terpencil menuntut perjalanan panjang dengan medan yang menantang. Untuk mencapai kawasan pegunungan Elar di Manggarai Timur, tim relawan memerlukan waktu tempuh sekitar tujuh jam. Rute tersebut dimulai dari Reo menuju Ruteng selama dua jam, dilanjutkan tiga jam perjalanan ke Elar, sebelum akhirnya menempuh satu hingga dua jam jalur pegunungan menuju lokasi pengungsi.
Pencarian 5 Jurnalis di Selat Sunda Dilanjutkan Pagi Ini

Sebagian titik terdampak bahkan tidak dapat dilalui kendaraan roda empat karena jalur yang berbatu dan curam, sehingga distribusi terpaksa beralih menggunakan motor trail. Saat melintasi jalur berbatu dan menyeberangi sungai menuju Elar, Rafki sempat mengalami kecelakaan akibat terjatuh dari sepeda motor saat berpapasan dekat dengan warga. Insiden tersebut mengakibatkan luka di tangan kanan, tangan kiri, kaki kiri, serta lutut kirinya.
Selain akses geografis, kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) menjadi hambatan logistik yang krusial. Keterbatasan stok bahan bakar mengharuskan relawan menghitung jarak tempuh dan konsumsi BBM secara cermat agar penyaluran tidak terhenti di tengah jalan. Sebanyak empat mobil pikap dan satu truk dikerahkan secara bertahap untuk membawa muatan beras, air mineral, selimut, tenda, terpal, serta obat-obatan.
Update Operasi SAR Pencarian Rombongan Jurnalis Peliput Anak Krakatau

Di luar pemenuhan kebutuhan fisik dan pangan, para relawan turut memberikan pendampingan psikososial. Kegiatan pemulihan trauma (trauma healing) diselenggarakan bagi anak-anak dan penyintas gempa melalui kolaborasi bersama Rangkul Foundation, Niqab Squad, serta komunitas Fruit Rave Journey guna meringankan beban trauma pascabencana.






