Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang, Banten, resmi memperpanjang masa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi peserta didik di jenjang PAUD, SD, dan SMP hingga Jumat (11/9). Keputusan ini diambil guna mengantisipasi risiko paparan sebaran abu vulkanik akibat peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terhadap kesehatan siswa.
Sebelumnya, pelaksanaan pembelajaran daring di wilayah Kabupaten Tangerang telah diberlakukan mulai Senin (7/9) sampai Rabu (9/9). Namun, melihat perkembangan situasi yang ada, pemerintah daerah memutuskan untuk memperpanjang kebijakan tersebut.
Antisipasi Dampak Kesehatan Siswa
Bupati Tangerang Maesyal Rasyid menyampaikan bahwa perpanjangan masa belajar dari rumah dilakukan karena sebaran abu vulkanik masih perlu terus diwaspadai. Kondisi tersebut dinilai berisiko mengganggu kesehatan masyarakat, khususnya kelompok usia anak-anak yang lebih rentan.
Maesyal menjelaskan bahwa paparan debu dan material abu vulkanik berpotensi memicu berbagai keluhan medis, antara lain Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi mata, serta iritasi kulit. Oleh sebab itu, langkah mitigasi melalui PJJ dipandang penting untuk mengurangi kontak langsung para siswa dengan udara luar yang terpapar abu.
Korban Meninggal Dunia Akibat Gempa NTT Bertambah Jadi 136 Orang

Kebijakan perpanjangan ini secara resmi tertuang dalam Surat Edaran Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang Nomor B/100.3.2/13587/IX/Disdik mengenai Imbauan Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di Wilayah Kabupaten Tangerang.
Arahan untuk Sekolah dan Orang Tua
Melalui surat edaran tersebut, Dinas Pendidikan meminta seluruh satuan pendidikan memastikan proses pembelajaran secara daring tetap berjalan dengan baik. Pihak sekolah juga diinstruksikan untuk tetap memantau presensi serta kehadiran guru dan murid selama masa PJJ berlangsung.
Selain itu, para guru diminta menyesuaikan beban tugas dan aktivitas pembelajaran agar sejalan dengan kondisi siswa di tengah situasi dampak abu vulkanik. Pihak sekolah turut diwajibkan menjalin komunikasi intensif dengan orang tua atau wali murid guna memantau kondisi kesehatan siswa secara berkala.
Usai Kebakaran Hebat, Desa Adat Sade Memilih Bangkit

Apabila ditemukan siswa yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik, pihak sekolah diminta segera berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan terdekat agar siswa yang bersangkutan dapat segera memperoleh penanganan medis yang tepat. Di sisi lain, para orang tua juga diimbau untuk membatasi aktivitas anak di luar rumah selama PJJ guna meminimalkan risiko paparan.
Pemkab Tangerang memastikan akan terus memantau perkembangan kondisi Gunung Anak Krakatau beserta arah sebaran abu vulkaniknya. Data dan pemantauan berkala tersebut akan dijadikan bahan evaluasi dalam menentukan kebijakan pembelajaran berikutnya.






