Kabar hilangnya rombongan yang menumpangi kapal cepat (speedboat) saat hendak meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda menyisakan kecemasan mendalam bagi pihak keluarga. Para istri pewarta yang berada di kapal tersebut kini menanti kepastian kabar di tengah operasi pencarian yang masih berjalan.
Astrid, istri dari jurnalis Anadolu Firdaus Wajidi, menuturkan detik-detik sebelum suaminya hilang kontak di laut. Firdaus sebelumnya berada di Carita untuk mewawancarai gubernur pada Minggu malam, sebelum kemudian memberi tahu rencananya untuk menyeberang ke kawasan Krakatau.
Komunikasi terakhir Astrid bersama Firdaus berlangsung sesaat sebelum keberangkatan kapal pada Senin (7/9). Saat itu, sang suami masih mengabarkan proses persiapan sebelum berlayar. Astrid sempat membalas pesan tersebut pada pukul 14.38 WIB, namun pesan tersebut tidak kunjung terkirim maupun terbaca.
Korban Meninggal Dunia Akibat Gempa NTT Bertambah Jadi 136 Orang

Kekhawatiran serupa dialami Desi, istri dari pewarta foto LKBN ANTARA M Bagus Khoirunnas. Pihak keluarga terus memantau perkembangan upaya pencarian yang sedang diupayakan di sekitar perairan Banten.
Kronologi dan Daftar Rombongan
Rombongan kapal cepat tersebut tercatat berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, Banten, pada Senin (7/9) sekitar pukul 14.00 WIB. Perjalanan laut menuju Gunung Anak Krakatau ini membawa delapan penumpang, terdiri atas lima jurnalis, dua awak kapal, dan satu orang pemandu.
Adapun lima jurnalis yang berada di dalam kapal tersebut meliputi M Bagus Khoirunnas (ANTARA), Ari Basuki (Merdeka), Yudhis (iNews), Firdaus Wajidi (Anadolu), serta Donal (pewarta lepas). Sementara itu, dua awak kapal yang bertugas adalah Warta (55) dan Surakman (60), didampingi oleh Heriyanto (49) yang bertindak sebagai pemandu.
Usai Kebakaran Hebat, Desa Adat Sade Memilih Bangkit

Saat perjalanan berlangsung, salah satu jurnalis dilaporkan sempat mengirimkan titik koordinat lokasi terakhir sekitar pukul 14.42 WIB. Namun, seluruh komunikasi dengan kapal terputus total tak lama berselang, tepatnya sekitar pukul 15.04 WIB.
Menanggapi situasi ini, Tim SAR menggelar operasi pencarian di sekitar perairan Selat Sunda. Tim memusatkan penyisiran berdasarkan rute, titik komunikasi terakhir, serta koordinat lokasi yang sempat dikirimkan sebelum kontak terputus.






