Pakar vulkanologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) membantah narasi yang menyebutkan bahwa erupsi sejumlah gunung berapi di Indonesia dipicu oleh rekayasa teknologi maupun teori konspirasi. Aktivitas vulkanik yang terjadi secara beruntun ditegaskan murni sebagai proses dinamika bumi.
Pakar Vulkanologi dari Fakultas Geografi UGM, Agung Harijoko, menjelaskan bahwa erupsi terjadi secara alami saat akumulasi tekanan gas dan magma di dalam perut bumi meningkat hingga mendesak keluar melalui kawah atau retakan kerak bumi. Terkait fenomena aktifnya enam gunung api dalam waktu yang hampir bersamaan鈥攜akni Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Semeru di Jawa Timur, Ili Lewotolok dan Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur, Ibu di Maluku Utara, serta Sinabung di Sumatera Utara鈥擜gung memastikan peristiwa itu terjadi karena faktor kebetulan.
Menurut Agung, setiap gunung api memiliki dapur magma tersendiri yang beroperasi secara independen di dalam bumi. Bentang jarak yang sangat jauh antarlokasi gunung tersebut juga membuat erupsi di satu titik mustahil menular atau memicu letusan di gunung lainnya.
Korban Meninggal Dunia Akibat Gempa NTT Bertambah Jadi 136 Orang

Perbedaan Siklus dan Karakteristik Magma
Dosen Fakultas Geografi UGM, Indranova Suhendro, menambahkan bahwa keserentakan erupsi lebih tepat dipahami sebagai pertemuan siklus aktivitas masing-masing gunung. Karakteristik setiap gunung api berbeda; Semeru dan Anak Krakatau tergolong memiliki frekuensi letusan yang tinggi, sedangkan gunung lain memiliki masa istirahat yang relatif lebih panjang sebelum kembali aktif.
Indranova menegaskan, keberadaan gunung-gunung tersebut di jalur subduksi Indonesia tidak otomatis menandakan adanya keterhubungan langsung antarsistem magma. Seluruh sistem bekerja secara lokal.
Usai Kebakaran Hebat, Desa Adat Sade Memilih Bangkit

Perbedaan karakteristik ini juga terlihat dari mekanisme letusannya. Pada Gunung Sinabung, Ibu, dan Semeru, tekanan dapat meningkat akibat panas magma yang memanaskan air di dalam tubuh gunung hingga memicu erupsi freatik, yang tidak selalu diawali lonjakan kegempaan vulkanik. Kondisi ini berbeda dengan Gunung Anak Krakatau yang mengalami erupsi magmatik eksplosif akibat magma berkandungan gas tinggi yang terdekompresi secara intens, menyerupai semburan gas pada minuman bersoda.
Adapun peningkatan aktivitas kegempaan vulkanik yang tercatat melonjak drastis pada Gunung Lewotobi Laki-laki dan Ili Lewotolok pascagempa menjadi penanda kuat bahwa kedua gunung di Nusa Tenggara Timur tersebut terpicu oleh aktivitas seismik dari gempa Flores.






