Di tengah derap kehidupan modern yang menuntut produktivitas tanpa batas, manusia sering kali terjebak dalam pusaran kompetisi yang melelahkan. Kelelahan mental dan keterasingan sosial menjadi pemandangan sehari-hari yang dianggap wajar dalam struktur masyarakat saat ini. Di sinilah pentingnya menengok kembali konsep kerja perawatan, yang sering kali dianggap remeh atau sekadar urusan domestik belaka. Padahal, merawat sesama bukan sekadar aktivitas rutin untuk bertahan hidup, melainkan sebuah tindakan nyata yang mampu meruntuhkan sekat-sekat penindasan.
Mengapa kerja perawatan kini dipandang sebagai bentuk perlawanan? Selama ini, sistem sosial yang opresif cenderung mengukur nilai kemanusiaan hanya dari kontribusi ekonomi langsung atau output kerja yang terukur. Akibatnya, aktivitas emosional seperti mendengarkan, merawat yang sakit, menjaga kesehatan mental komunitas, dan membangun solidaritas kerap dikesampingkan. Pengabaian terhadap aspek-aspek kemanusiaan inilah yang melanggengkan penindasan, karena individu dipaksa untuk terus berfungsi seperti mesin tanpa diberikan ruang untuk pulih atau saling mendukung satu sama lain.








