Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, membantah dengan tegas anggapan yang menyebutkan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) menghabiskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Penolakan terhadap narasi negatif tersebut disampaikannya untuk merespons berbagai komentar yang menuding program pemenuhan gizi ini sebagai penyebab terkurasnya kas negara. Dalam keterangannya di kantor BGN, Jakarta Pusat, Sudaryono memastikan bahwa alokasi dana untuk program tersebut tidak mengganggu pembiayaan sektor-sektor prioritas lainnya.
Menurut Sudaryono, berbagai persoalan pembangunan di Indonesia sebenarnya sudah menjadi pekerjaan rumah pemerintah sejak lama. Ia mencontohkan masalah di sektor pertanian, fasilitas gedung sekolah yang kurang memadai, hingga isu kesejahteraan guru honorer yang sudah ada jauh sebelum program Makan Bergizi Gratis dianggarkan. Oleh karena itu, ia menilai tidak tepat jika masyarakat menganggap program gizi ini mengorbankan anggaran yang seharusnya digunakan untuk membenahi sektor-sektor krusial tersebut.
Klarifikasi dari Kepala BGN ini juga mengemuka menyusul viralnya sebuah foto yang memperlihatkan kondisi para siswa di SDN Tanggirejo, Grobogan, Jawa Tengah. Dalam foto yang beredar luas itu, para siswa tampak sedang menyantap hidangan dari program Makan Bergizi Gratis di depan ruang kelas yang atapnya dalam kondisi rusak. Merespons hal ini, Sudaryono menjelaskan bahwa kerusakan fasilitas sekolah tersebut memang sudah terjadi sebelum adanya program MBG, sehingga tidak adil jika disandingkan dengan pembangunan dapur gizi yang baru. Ia juga menekankan bahwa saat ini fasilitas yang rusak tersebut sedang diperbaiki secara langsung atas arahan Presiden Prabowo Subianto.
Dentuman Keras & Kilatan Cahaya di Gorontalo, BMKG, Bukan Gempa

Pemerintah secara konsisten terus menjalankan program perbaikan fasilitas pendidikan secara bertahap. Berdasarkan data pemerintah, lebih dari 16 ribu sekolah telah berhasil direnovasi sepanjang tahun 2025. Untuk tahun ini, target perbaikan fasilitas pendidikan dipatok pada angka lebih dari 70 ribu unit sekolah. Bahkan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) sempat mengutarakan bahwa jumlah sekolah yang akan direnovasi pada tahun ini bisa mencapai hampir 90 ribu unit. Secara keseluruhan, pemerintah memiliki target besar untuk menyelesaikan perbaikan pada 300 ribu hingga hampir 400 ribu sekolah di seluruh Indonesia.
Selain fokus pada perbaikan infrastruktur pendidikan, pemerintah juga memastikan sektor pertanian tidak luput dari perhatian, terutama terkait ketersediaan sarana produksi bagi para petani. Sudaryono mengungkapkan bahwa pada masa lalu sebelum adanya program Makan Bergizi Gratis, kelangkaan pupuk kerap terjadi di lapangan. Namun, pada saat ini, ketika program gizi tersebut sudah berjalan dan memakan anggaran, pasokan pupuk justru berada dalam kondisi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan petani. Tidak hanya memastikan ketersediaan pasokan, pemerintah bahkan memberikan potongan harga atau diskon sebesar 20 persen untuk pembelian pupuk tersebut.
Bantuan 19 Ton Dikirim untuk Korban Gempa NTT

Perhatian pemerintah terhadap sektor pertanian juga diwujudkan melalui peningkatan alokasi dana untuk infrastruktur pengairan. Anggaran untuk revitalisasi jaringan irigasi tercatat mengalami kenaikan yang signifikan, yakni dari Rp12 triliun pada tahun lalu menjadi Rp14 triliun pada tahun ini. Rencananya, alokasi anggaran sebesar Rp12 triliun hingga Rp14 triliun tersebut akan terus disalurkan untuk menyelesaikan seluruh perbaikan irigasi secara menyeluruh dalam kurun waktu lima tahun ini. Fakta-fakta ini membuktikan bahwa program Makan Bergizi Gratis tetap dapat berjalan secara beriringan dengan program revitalisasi sekolah dan pembangunan infrastruktur pertanian tanpa saling menggerus anggaran negara.






