Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan adanya potensi hujan di sebagian wilayah Kalimantan Barat pada periode 1 hingga 7 September 2026. Informasi mengenai peluang turunnya hujan tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers pada Selasa (1/9).
Berdasarkan prakiraan BMKG, potensi presipitasi yang terdeteksi di sebagian wilayah Kalimantan Barat tersebut memiliki intensitas sporadis. Karakteristik hujan sporadis diartikan sebagai hujan yang turun secara tidak merata antarwilayah atau berlangsung hanya sesaat.
Upaya Optimalisasi Lewat Modifikasi Cuaca
Guna mengoptimalkan potensi awan hujan yang ada di wilayah tersebut, pemerintah merencanakan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah ini ditujukan untuk memaksimalkan curah hujan di lokasi yang membutuhkan penanganan.
Raja Juli Soal Karhutla, Asap Tak Punya KTP

Sebelumnya, Operasi Modifikasi Cuaca tercatat sudah sempat dilaksanakan sebanyak satu kali di kawasan terkait. Pada pelaksanaan operasi terdahulu tersebut, tim telah menebarkan sebanyak 1.600 kilogram garam ke lapisan atmosfer untuk memicu terjadinya hujan.
Kondisi Titik Api dan Tantangan Pemadaman
Keberadaan potensi hujan dan rencana OMC ini menjadi faktor penting di tengah situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Hingga saat ini, BNPB melaporkan tengah memonitor 30 titik api aktif (firespot) di wilayah Kalimantan Barat.
MUI Jatim Minta Polisi Bertindak Usai Sound Horeg Makan 3 Korban

Kemunculan puluhan titik api tersebut berdampak signifikan pada kondisi lingkungan sekitar. Kualitas udara di wilayah pantauan dilaporkan secara umum berada pada tingkat berbahaya, dengan jarak pandang (visibilitas) yang merosot hingga di bawah 1 kilometer.
Untuk mengatasi karhutla, operasi pemadaman saat ini terus dilaksanakan secara terpadu melalui jalur darat maupun udara. Kendati demikian, tim gabungan di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala teknis dan kondisi alam, antara lain tingkat daya lihat atau visibilitas yang rendah, karakteristik lahan gambut yang sulit dipadamkan, serta keterbatasan sumber air di sekitar lokasi kebakaran.






