Badan Pangan Nasional (Bapanas) membeberkan sejumlah faktor pemicu lonjakan harga rata-rata cabai rawit nasional yang menembus Rp81.052 per kilogram pada Kamis (10/9). Kenaikan ini dipicu oleh gangguan pada sisi produksi hingga perubahan pola tanam di tingkat petani.
Berdasarkan pemaparan Bapanas, fluktuasi dan kenaikan harga cabai rawit dipengaruhi oleh kemarau berkepanjangan yang menekan hasil panen. Selain kendala cuaca, tanaman cabai di berbagai sentra juga menghadapi serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), khususnya hama trips dan kutu kebul. Faktor lain yang turut mengurangi ketersediaan stok adalah keputusan sejumlah petani yang melakukan alih tanam dari cabai ke komoditas lain.
Secara regional, disparitas harga antarwilayah masih tercatat cukup lebar. Sulawesi Utara mencatatkan harga rata-rata cabai rawit tertinggi di tingkat nasional dengan angka mencapai Rp152.872 per kilogram. Sebaliknya, Nusa Tenggara Timur menjadi wilayah dengan rata-rata harga terendah, yakni Rp56.604 per kilogram.
Beasiswa PNM Sambungkan Mimpi Pendidikan Anak Nasabah Mekaar

Pasokan Sentra dan Langkah Distribusi
Untuk proyeksi ketersediaan, produksi cabai rawit secara nasional pada September diperkirakan mencapai sekitar 119.000 ton. Di kawasan Jawa Timur, luasan tanaman yang masih berdiri (standing crop) tercatat sekitar 1.486 hektare di Banyuwangi dan 1.691 hektare di Sampang.
Sentra produksi cabai rawit lain di Pulau Jawa tersebar di Temanggung, Brebes, dan Magelang. Produksi di sentra-sentra tersebut saat ini masih relatif rendah karena sebagian besar tanaman baru memasuki masa tanam, namun diharapkan dapat menopang kebutuhan pasar saat permintaan meningkat menjelang momen Natal dan Tahun Baru.
Bulog dan Kemenko Pangan Salurkan 7.542 Ton Beras Bantuan di Kediri

Guna mengendalikan gejolak harga di daerah yang mengalami kelangkaan, pemerintah menyiapkan mobilisasi stok dari wilayah surplus ke daerah defisit melalui program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) dengan menggandeng kelompok petani Champion Cabai.
Skema distribusi serupa telah diterapkan pada triwulan I 2026 dengan volume penyaluran mencapai 5.590 kilogram cabai rawit. Mobilisasi tersebut mencakup pengiriman 3.150 kilogram cabai dari Enrekang, Sulawesi Selatan, menuju Pasar Induk Kramat Jati di Jakarta, serta pengiriman 1.140 kilogram ke Lombok Tengah dan 1.300 kilogram ke Lombok Timur. Intervensi distribusi ini sebelumnya tercatat membantu meredam tekanan harga hingga menyumbang deflasi pangan pada April 2026 pasca-Ramadan dan Idulfitri.






