Narasi yang beredar di media sosial mengenai klaim bahwa Indonesia, khususnya wilayah Jawa atau Jakarta, akan diguncang gempa dahsyat bermagnitudo 7,0 hingga 9,1 sebelum akhir 2026 dipastikan keliru dan menyesatkan.
Klaim tersebut menyebar di platform Facebook melalui unggahan beberapa akun, antara lain Vandygumara Mboge, Firman Fadilah, Rizal Sihotang, dan Ade Abdullah. Hingga Jumat (11/9/2026), unggahan yang memicu kekhawatiran publik tersebut telah dibagikan puluhan kali dan menuai beragam komentar dari warganet.
Setelah ditelusuri, narasi prediksi gempa tersebut bermula dari video di kanal YouTube pribadi milik Frankie MacDonald. Frankie merupakan pengamat cuaca amatir sekaligus kreator konten asal Sydney, Nova Scotia, Kanada. Ia tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang geologi, seismologi, maupun meteorologi.
Melawan Saat Ditangkap, Maling Motor Kawakan di Tangerang Dilumpuhkan Polisi

Menanggapi ramalan yang viral tersebut, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Wijayanto, menegaskan bahwa sampai saat ini belum ada satu pun teknologi yang mampu memprediksi kejadian gempa bumi secara tepat, baik dari segi waktu maupun lokasinya.
Wijayanto menjelaskan bahwa wilayah Indonesia memang berada di kawasan rawan gempa bumi akibat adanya ancaman dari sumber megathrust dan sesar aktif. Secara karakteristik kegempaan, gempa berkekuatan di atas magnitudo 7,0 bahkan dapat terjadi hingga dua kali dalam setahun di Indonesia, namun tidak ada pihak yang bisa meramalkan jadwal terjadinya gempa secara spesifik.
Dapur Umum Ini Targetkan 21.000 Porsi bagi Warga Terdampak Gempa Flores

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh ramalan gempa dari pihak yang tidak memiliki kompetensi keilmuan. BMKG menegaskan bahwa informasi resmi terkait peringatan dini dan aktivitas kegempaan hanya dikeluarkan melalui kanal resmi BMKG di situs bmkg.go.id, aplikasi infoBMKG, dan akun media sosial @infoBMKG.






