Penentuan status ekonomi seseorang tidak semata-mata diukur dari nominal gaji bulanan yang tertera di slip rekening. Berbagai indikator finansial, mulai dari stabilitas hunian, jaminan pekerjaan, hingga akses pendidikan, menjadi tolok ukur nyata dalam menentukan apakah seseorang berada di kelompok ekonomi bawah.
Secara formal di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) mengklasifikasikan penduduk miskin berdasarkan rata-rata pengeluaran per kapita yang berada di bawah garis kemiskinan. Sebagai gambaran, standar garis kemiskinan untuk wilayah DKI Jakarta tercatat menyentuh angka Rp4.238.886 per bulan.
Di luar patokan garis kemiskinan statistik tersebut, panduan finansial GoBankingRates merinci lima indikator utama yang mencerminkan posisi ekonomi kelas bawah.
1. Kesulitan Mengakses Hunian Layak
Kondisi tempat tinggal menjadi cerminan langsung dari ketahanan finansial. Seseorang yang secara konsisten mengalami kesulitan untuk mengakses hunian yang aman, nyaman, dan berada di lingkungan yang layak mengindikasikan adanya kerentanan ekonomi yang mengarah pada kelompok kelas bawah.
Purbaya soal Gaji Manajer Kopdes Dibiayai APBN, Nggak Besar-besar Amat

2. Terbatas pada Pekerjaan Berkeahlian Rendah
Struktur profesi turut memengaruhi stabilitas pendapatan. Pekerjaan kerah biru (blue collar) atau sektor dengan kebutuhan keahlian rendah—seperti pelayan restoran, sopir truk, pegawai ritel, buruh manufaktur, hingga petugas kebersihan—kerap menempatkan pekerjanya pada spektrum ekonomi bawah karena keterbatasan upah dan minimnya tunjangan kerja.
CEO Salarship, Nathan Brunner, memberikan perspektif mengenai pembagian posisi kerja ini. "Anda dianggap berada di kelas menengah jika bekerja dalam posisi manajerial atau pekerjaan spesialis," ujar Nathan Brunner.
Sementara itu, profesi seperti guru, perawat, akuntan, maupun pekerja teknologi informasi berada di zona dinamis antara kelas pekerja atau kelas menengah, yang sangat ditentukan oleh tingkat senioritas dan kepemilikan sertifikasi profesi.
Jalur Pipa Saudi Ditutup, Harga Minyak Dunia Tembus US$107

3. Tidak Memiliki Dana Darurat dan Pensiun
Ketiadaan bantalan finansial saat situasi genting adalah alarm utama kerentanan ekonomi. Seseorang yang sama sekali tidak memiliki cadangan tabungan darurat dan tidak memiliki perencanaan dana pensiun berada dalam posisi keuangan yang rentan terhadap guncangan ekonomi mendadak.
4. Keterbatasan Anggaran untuk Rekreasi
Fleksibilitas pengeluaran untuk kebutuhan non-pokok memperlihatkan kelonggaran arus kas. Ketika anggaran belanja sangat ketat hingga membuat aktivitas sederhana—seperti berlibur, makan di restoran, atau membeli barang kebutuhan baru—terasa sangat berat untuk dipenuhi, kondisi ini menandakan kapasitas ekonomi yang terbatas.
5. Hambatan Menempuh Pendidikan Tinggi
Keterjangkauan biaya kuliah menjadi faktor krusial bagi mobilitas sosial. Ketidakmampuan mengakses pendidikan tinggi akibat tingginya biaya tidak hanya membatasi peluang untuk memasuki jenjang karier bergaji tinggi, tetapi juga berisiko mengukuhkan siklus keterbatasan ekonomi antargenerasi.






