Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyoroti lebarnya jurang kesenjangan harga pangan antardaerah di Indonesia. Salah satu komoditas yang mengalami disparitas mencolok adalah telur ayam di kawasan timur, khususnya Papua dan Maluku.
Dalam keterangannya pada acara peluncuran buku "Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul" di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (4/9), Zulhas menyebutkan harga telur di Papua dan Maluku dapat menyentuh angka Rp60.000 per kilogram (kg). Angka tersebut mencapai lebih dari dua kali lipat jika dibandingkan dengan harga di DKI Jakarta yang berada di kisaran Rp28.000 per kg.
Zulhas menilai tingginya harga komoditas pangan pokok di kawasan Indonesia bagian timur berisiko memperburuk ketimpangan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat. Kondisi harga pangan yang mahal tersebut kontras dengan tingkat pendapatan warga di wilayah timur yang cenderung lebih rendah dibanding kawasan barat.
Basarnas Makassar Kerahkan KN SAR Kamajaya Cari Korban KMP Virgo Transport 8

Situasi ini dikhawatirkan dapat memicu peningkatan kasus malanutrisi atau kekurangan gizi apabila dibiarkan tanpa intervensi logistik dan produksi yang memadai.
Sebagai solusi struktural untuk menekan biaya distribusi antarpulau yang tinggi, pemerintah mendorong skema kemandirian pangan berbasis wilayah. Zulhas menegaskan bahwa Presiden Prabowo telah menginstruksikan agar kawasan timur, khususnya Papua, tidak terus-menerus bergantung pada pasokan luar daerah.
Longsor Terjang 7 Kampung di Aceh Tengah, 1 Orang Tewas dan 13 Terluka

Langkah konkret yang kini tengah dijalankan pemerintah adalah pengembangan kawasan Wanam di Merauke, Papua, sebagai lumbung pangan nasional atau food estate. Fasilitas produksi ini ditargetkan mampu memenuhi kebutuhan beras di seluruh wilayah Papua secara mandiri. Jika terjadi surplus produksi, pasokan tersebut diproyeksikan dapat menopang kebutuhan wilayah lain seperti Maluku dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Zulhas juga mengingatkan urgensi penguatan produksi pangan lokal di tengah tren kenaikan impor. Menurutnya, kegagalan memperkuat basis produksi domestik dapat mengubah pola konsumsi nasional secara drastis dalam 50 tahun ke depan, termasuk pergeseran ketergantungan pangan dari beras ke gandum atau roti.






