Polda Banten memastikan sejumlah barang yang ditemukan di perairan Selat Sunda, tepatnya di sebelah timur Pulau Rakata, bukan milik rombongan lima jurnalis yang hilang kontak saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Temuan tersebut sebelumnya sempat diduga berkaitan dengan kapal KM Arupadhatu 1 yang membawa para awak media.
Kabidhumas Polda Banten Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea menjelaskan bahwa benda yang dievakuasi tim pencari meliputi satu helm plastik merah, satu jeriken plastik biru bertutup hitam, dan dua jaket pelampung berwarna oranye. Setelah dilakukan pemeriksaan silang serta konfirmasi langsung kepada pemilik kapal KM Arupadhatu 1, seluruh benda tersebut terbukti memiliki karakteristik yang berbeda dengan perlengkapan kapal korban.
Perbedaan paling mencolok terlihat pada dua jaket pelampung oranye yang bertuliskan MILLES II. Sementara itu, jaket pelampung resmi milik KM Arupadhatu 1 tidak memiliki tulisan apa pun dan berwarna merah, kuning, serta ungu.
Putusan Praperadilan Lodewyk Pusung Dibacakan Hari Ini

Selain pelampung, jeriken yang mengapung di perairan juga mengeluarkan aroma minyak sayur, berbeda dengan KM Arupadhatu 1 yang menggunakan bahan bakar Pertamax. Secara fisik, jeriken temuan berwarna biru tua berkapasitas 35 liter dengan bodi lebih panjang, tutup hitam, dan memiliki tulisan. Sebaliknya, jeriken milik kapal berkapasitas 30 liter dengan warna biru pudar, bentuk lebih pendek, polos, dan memakai tutup putih. Helm plastik merah yang ditemukan turut dipastikan bukan bagian dari perlengkapan karena kapal tidak pernah menyediakan fasilitas helm jenis tersebut.
Dengan tidak terbuktinya kaitan temuan benda tersebut, tim SAR gabungan terus memperluas jangkauan pencarian hingga mencakup area seluas 6.010 mil laut persegi. Wilayah operasi dibagi ke dalam enam sektor, terdiri atas lima sektor perairan dan satu sektor udara.
Kebakaran Ruko di Asemka Jakbar dalam Proses Pendinginan

Sektor V seluas 840 mil laut persegi disisir menggunakan dua armada TNI AL, KRI Kerambit dan KRI Teluk Gilimanuk. Sektor W dengan luas 1.120 mil laut persegi diawasi oleh KAL Anyer. Sementara itu, Sektor X seluas 681 mil laut persegi dipantau oleh delapan armada gabungan, meliputi KN SAR Tetuka, RBB Peucang, RIB 02 Basarnas Banten, RIB 02 Basarnas Lampung, kapal polisi 2016, kapal polisi 2013, KM Garuda, serta KM Bima.
Untuk Sektor Y yang mencakup 497 mil laut persegi, operasi dijalankan oleh KP Sanjaya dan KRI Lepu. Adapun Sektor Z seluas 809 mil laut persegi ditangani KN SAR Basudewa dari Basarnas Lampung dan KN SAR Antasena dari Basarnas Jakarta. Selain armada laut, satu unit helikopter disiagakan di ATS untuk memantau situasi dari udara di kawasan perairan Selat Sunda.






