Ketegangan yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah mendorong negara-negara Arab Teluk untuk mulai mengandalkan China. Langkah strategis ini diambil guna memanfaatkan kekuatan pengaruh ekonomi Beijing terhadap Iran di tengah kembali memanasnya konflik di wilayah tersebut. Negara-negara Teluk berharap keterlibatan Beijing dapat secara efektif membantu meredakan ketegangan yang secara langsung mengancam stabilitas kawasan secara keseluruhan. Kekhawatiran negara-negara Arab Teluk ini meningkat secara signifikan setelah meletusnya konflik yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Insiden tersebut dinilai telah mengganggu jalur ekspor energi yang sangat vital dan sekaligus meningkatkan risiko keamanan kawasan ke tingkat yang lebih mengkhawatirkan.
Berdasarkan keterangan dari tiga sumber regional, negara-negara Teluk secara khusus meminta intervensi dari Beijing karena mereka menilai perang yang terjadi saat ini telah memperlihatkan keterbatasan pengaruh AS dalam meredakan ketegangan. Harapan utama negara-negara Arab Teluk kini tertuju pada kemampuan China untuk mendorong Teheran agar bersedia membuka kembali Selat Hormuz, serta meredakan berbagai ancaman terhadap jalur pelayaran di Laut Merah. Upaya ini sekaligus menjadi ujian penting atas seberapa besar pengaruh diplomatik Beijing terhadap Iran di tengah konflik yang terus berkembang. Kendati desakan terus berdatangan, pihak Iran tetap menegaskan posisinya bahwa mereka akan mempertahankan kendali penuh atas Selat Hormuz.
Merespons situasi yang kian mendidih, Kementerian Luar Negeri China secara resmi menyatakan bahwa Beijing terus menjalin komunikasi erat dengan semua pihak yang terlibat. Pernyataan yang dikutip oleh Reuters pada Jumat (31/7/2026) tersebut juga menegaskan bahwa China secara konsisten berupaya menghentikan pertempuran dan mendorong perdamaian di Timur Tengah. Sebagai tindak lanjut, Menteri Luar Negeri China Wang Yi disebut telah melakukan serangkaian komunikasi dengan berbagai pihak terkait. Di lapangan, utusan khusus China, Zhai Jun, juga ditugaskan mengunjungi sejumlah ibu kota negara Teluk dan Iran guna mendorong tercapainya kesepakatan gencatan senjata secepat mungkin.
Klub Jalur Sutra Dibentuk di RI untuk Perkuat Hubungan Indonesia dan China

Posisi China sebagai pembeli utama minyak dari kawasan Teluk sekaligus mitra dagang terbesar Iran membuat Beijing berada dalam posisi yang sangat strategis, meski di saat yang sama juga sangat sensitif. Salah satu sumber dari kawasan Teluk mengungkapkan bahwa terdapat rasa saling menghormati yang tinggi antara negara-negara Teluk dan China, sehingga setiap isu dibahas secara tertutup dan hati-hati. Sumber tersebut juga menyebutkan bahwa negara-negara Teluk berharap China dapat membujuk Teheran kembali ke meja perundingan. Hubungan ekonomi China dengan enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) sendiri diketahui terus berkembang pesat sejak KTT China-GCC yang diselenggarakan pada tahun 2022 lalu.
Dalam menjalankan perannya, Beijing menegaskan bahwa mereka tidak siap menggunakan kekuatan militer untuk membuka kembali Selat Hormuz. China lebih memilih untuk mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi, dialog, serta menjaga keamanan jalur pelayaran internasional. Untuk melindungi kepentingannya, China disebut telah melakukan komunikasi langsung dengan kelompok Houthi di Yaman agar kapal tanker yang terkait dengan kepentingannya dapat melintasi Laut Merah dengan aman. Di ranah diplomasi kawasan, setelah sukses memediasi normalisasi hubungan Arab Saudi dan Iran pada tahun 2023, Beijing kini juga mendorong Pakistan untuk menjadi penengah antara Washington dan Teheran.
Presiden Ini Izinkan Polisi Masuk Kampus jika Terjadi Demo Rusuh

Pakar China di Washington Institute, Henry Tugendhat, memberikan penilaian bahwa prioritas utama Beijing saat ini adalah menjaga hubungan baik dengan seluruh negara di Timur Tengah, bukan mengambil risiko merusak hubungan diplomatik dengan memihak salah satu kubu. Menurut Tugendhat, ketika AS terlibat langsung dalam konflik, perhitungan strategis China meluas hingga mencakup persaingan global dengan Washington. Sejumlah analis juga menilai bahwa respons China terhadap konflik Iran ini mencerminkan strategi jangka panjang negara tersebut untuk terus menghindari keterlibatan militer secara langsung di luar kawasan Asia Timur.






