Pergerakan saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH) mengalami pembalikan arah yang cukup tajam pada perdagangan hari Selasa, 4 Agustus 2026. Setelah sempat mencatatkan tren positif selama beberapa hari sebelumnya, harga saham emiten ini akhirnya merosot hingga menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB). Koreksi ini terjadi tidak lama setelah Grup Djarum secara resmi masuk dan menjadi pemegang saham pengendali yang baru di dalam perseroan.
Pada penutupan perdagangan hari Selasa tersebut, saham BACH tercatat anjlok sebesar 14,78 persen dan berakhir di level Rp865 per lembar saham. Padahal, pada awal sesi perdagangan, saham BACH sempat dibuka menguat di level Rp1.030 per saham dan bahkan sempat menyentuh titik tertinggi hariannya di level Rp1.080 per saham. Namun, harga saham kemudian berbalik arah hingga menyentuh batas ARB. Penurunan tajam ini sekaligus memutus rentetan penguatan yang sudah berlangsung selama enam hari perdagangan secara beruntun.
Sebelum terjadinya koreksi pada hari Selasa, saham BACH sebenarnya telah mencatatkan reli penguatan yang sangat signifikan. Pada perdagangan hari Senin, 3 Agustus 2026, saham BACH ditutup melesat sebesar 15,34 persen menuju level Rp1.015 per saham. Jika ditarik lebih jauh, dalam kurun waktu enam hari perdagangan sejak tanggal 27 Juli hingga 3 Agustus 2026, saham BACH tercatat sudah melesat sekitar 93 persen dari level Rp525 per saham. Meskipun mengalami koreksi ARB pada perdagangan 4 Agustus 2026, harga saham BACH secara akumulatif masih terpantau menguat sekitar 65 persen jika dibandingkan dengan posisinya pada tanggal 24 Juli 2026.
Aktivitas transaksi perdagangan saham BACH pada hari Selasa terpantau cukup ramai. Nilai transaksi saham BACH tercatat mencapai Rp204,46 miliar dengan volume perdagangan mencapai 2,15 juta lot dan frekuensi transaksi sebanyak 25,56 ribu kali. Adapun harga rata-rata perdagangan saham BACH pada hari tersebut berada di level Rp951 per saham. Di sisi lain, antrean jual (offer) untuk saham BACH juga terpantau menumpuk hingga mencapai total 1,06 juta lot dengan frekuensi sebanyak 4.923 kali. Antrean jual terbesar dilaporkan berada pada level ARB Rp865 dengan jumlah sebanyak 203.134 lot, serta pada level harga Rp900 dengan jumlah antrean mencapai 732.069 lot.
Pakar ITS soal Insiden Kapal Virgo Terbalik, Tak Cocok di Laut RI

Dari sisi pelaku pasar, transaksi perdagangan didominasi oleh investor domestik yang menguasai porsi sebesar 93,33 persen. Investor domestik mencatatkan nilai beli sebesar Rp198,53 miliar dan nilai jual sebesar Rp183,11 miliar. Sementara itu, investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp15,42 miliar, dengan rincian nilai jual asing mencapai Rp21,35 miliar berbanding terbalik dengan nilai beli asing yang hanya sebesar Rp5,93 miliar.
Untuk aktivitas broker, Stockbit Sekuritas Digital (dengan kode broker XL) tercatat sebagai broker yang paling aktif di sisi pembelian dengan nilai mencapai Rp50,72 miliar. Di saat yang sama, XL juga tercatat menjadi penjual terbesar dengan nilai mencapai Rp18,42 miliar. Selain itu, Erdikha Elit Sekuritas (dengan kode broker AO) juga terpantau sangat aktif di kedua sisi perdagangan dengan mencatatkan nilai penjualan sebesar Rp7,58 miliar.
Koreksi tajam saham BACH ini terjadi tak lama setelah Grup Djarum secara resmi mengakuisisi 51 persen saham BACH melalui anak usahanya, PT Global Telekomunikasi Prima (GTP). Dengan adanya transaksi yang telah efektif ini, BACH kini resmi bergabung ke dalam ekosistem infrastruktur telekomunikasi milik Grup Djarum. Ekosistem telekomunikasi ini sebelumnya telah menaungi beberapa entitas besar seperti Protelindo, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), iForte, dan SUPR.
Tim 9 Kejagung Sita 38 Aset Senilai Rp846 Miliar Terkait Kasus Febrie Adriansyah

Jika melihat kinerja fundamentalnya, PT Bach Multi Global Tbk sebenarnya menunjukkan performa yang cukup solid pada tahun sebelumnya. Sepanjang tahun 2025, BACH berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp1,73 triliun. Jumlah pendapatan tersebut mencerminkan kenaikan yang cukup signifikan, yaitu hampir sebesar 40 persen jika dibandingkan dengan pendapatan pada tahun sebelumnya.
Pertumbuhan pendapatan ini juga diikuti oleh kenaikan laba bersih perseroan secara signifikan pada tahun 2025. Laba bersih BACH tercatat meningkat hampir dua kali lipat menjadi sekitar Rp156 miliar. Dengan pencapaian tersebut, perseroan berhasil mencatatkan margin laba bersih atau Net Profit Margin (NPM) sebesar 9 persen, serta tingkat pengembalian ekuitas atau Return on Equity (ROE) yang berada di level 29 persen.






