Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau mengalami pelemahan pada pembukaan perdagangan hari Selasa, 11 Agustus 2026. Berdasarkan data pasar yang dihimpun, mata uang rupiah dibuka terdepresiasi sebesar 0,17 persen dan berada di posisi Rp17.780 per dolar AS. Pelemahan yang terjadi pada pagi hari ini mengakhiri tren positif rupiah yang sebelumnya telah mencatatkan penguatan selama empat hari perdagangan berturut-turut sejak tanggal 5 Agustus 2026. Padahal, pada hari perdagangan sebelumnya, yakni Senin, 10 Agustus 2026, rupiah ditutup menguat cukup signifikan sebesar 0,75 persen ke level Rp17.750 per dolar AS.
Di sisi lain, pergerakan indeks dolar AS (DXY) menunjukkan pergerakan yang berbalik turun tipis di pasar global. Pada pukul 09.00 WIB di hari Selasa, indeks DXY terpantau melemah sebesar 0,06 persen ke posisi 99,571. Penurunan tipis ini terjadi setelah pada sesi perdagangan sebelumnya indeks dolar AS sempat mengalami penguatan sebesar 0,27 persen. Pada perdagangan hari Senin tersebut, dolar AS ditutup menguat setelah harga minyak dunia melonjak lebih dari 4 persen. Kenaikan tajam harga minyak ini dipicu oleh situasi di mana pihak Amerika Serikat dan Iran saling mengajukan tuntutan kompensasi satu sama lain.
Selain faktor ketegangan geopolitik dan komoditas, perhatian pelaku pasar keuangan global saat ini juga tertuju pada rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Para pelaku pasar sedang menantikan pengumuman resmi mengenai data inflasi konsumen AS untuk periode Juli. Data inflasi tersebut dijadwalkan akan dirilis pada hari Rabu, 12 Agustus 2026 waktu Amerika Serikat. Antisipasi terhadap rilis data inflasi ini menjadi sangat penting mengingat kondisi ketenagakerjaan di AS yang sedang melemah, di mana perekonomian negara tersebut dilaporkan kehilangan lapangan kerja pada bulan Juli, serta adanya revisi turun pada data penambahan tenaga kerja untuk dua bulan sebelumnya.
IHSG Sesi I Dibuka Menguat 0,29% ke Level 6.383

Kondisi melemahnya sektor ketenagakerjaan di Amerika Serikat tersebut secara langsung mempengaruhi proyeksi kebijakan moneter dari bank sentral AS, The Federal Reserve. Berdasarkan data pasar saat ini, ekspektasi pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga acuan oleh The Federal Reserve pada bulan September 2026 mendatang mengalami penurunan yang cukup signifikan. Peluang kenaikan suku bunga tersebut kini turun menjadi 52 persen, merosot dibandingkan dengan ekspektasi pada pekan sebelumnya yang masih berada di angka 67 persen.
Sementara dari dalam negeri, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh perkembangan dinamika kepemimpinan di bank sentral Indonesia. Pelaku pasar keuangan domestik tengah mencermati langkah Presiden Prabowo Subianto yang telah mengusulkan nama Destry Damayanti sebagai calon tunggal untuk menduduki posisi Gubernur Bank Indonesia. Kepastian mengenai usulan ini disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, yang mengonfirmasi bahwa surat resmi mengenai pencalonan tunggal tersebut telah dikirimkan oleh Presiden kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk diproses lebih lanjut.
BEI Pantau Ketat Saham MCAS dan FUTR Akibat Unusual Market Activity

Saat ini, Destry Damayanti masih menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia. Posisi penjabat sementara tersebut diemban oleh Destry setelah Gubernur Bank Indonesia sebelumnya, Perry Warjiyo, secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada tanggal 25 Juli 2026 yang lalu karena alasan pribadi. Proses pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia ini menjadi perhatian penting bagi pelaku pasar dalam melihat arah kebijakan moneter nasional ke depan.






