Kunjungan kerja yang dilakukan oleh Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Moh Jumhur Hidayat, ke Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, pada tanggal 8-9 Agustus 2026 membawa angin segar bagi pembangunan daerah. Dalam kunjungan tersebut, Moh Jumhur Hidayat memberikan dorongan kuat agar Kabupaten Wonosobo mengembangkan potensi pariwisata berbasis lingkungan. Langkah ini dinilai strategis sebagai salah satu upaya nyata untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat dengan tetap menjaga kelestarian alam sekitar.
Selama berada di Kabupaten Wonosobo, Moh Jumhur Hidayat melakukan diskusi mendalam mengenai konsep ekowisata bersama dengan Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, beserta para tokoh masyarakat Wonosobo. Ekowisata yang dimaksud dalam pembahasan tersebut berfokus pada kegiatan pariwisata yang berkaitan erat dengan pemuliaan dan pelestarian lingkungan hidup. Melalui kolaborasi dan diskusi ini, diharapkan sektor pariwisata tidak hanya menjadi sarana hiburan bagi para wisatawan, melainkan juga menjadi wadah edukasi sekaligus aksi nyata dalam menjaga ekosistem alam di wilayah Wonosobo agar tetap lestari.
Selain melakukan diskusi formal, Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat juga menyempatkan diri untuk berinteraksi langsung dengan warga sekitar. Kunjungan kerja ini bertepatan dengan momen penting bagi daerah tersebut, di mana Jumhur berdialog langsung dengan masyarakat dalam rangkaian acara Malam Puncak Peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo. Kebersamaan tersebut semakin lengkap saat Jumhur meninjau langsung pelaksanaan Festival Balon Udara yang diselenggarakan di Alun-alun Wonosobo, sebuah acara yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dan wisatawan.
Satpol PP Kota Depok Penertiban 350 Bangunan Liar di Kawasan UPT Pasar Cisalak

Di samping sektor ekowisata, Kabupaten Wonosobo juga dinilai memiliki potensi ekonomi yang sangat besar dari sektor perdagangan karbon. Potensi perdagangan karbon di daerah ini didukung penuh oleh kondisi lingkungan setempat, seperti kerimbunan vegetasi yang terjaga, luasnya kawasan hutan, serta tingginya partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan penghijauan. Dalam mekanisme perdagangan karbon ini, oksigen yang dihasilkan dari kegiatan penanaman pohon oleh masyarakat dapat dikompensasikan dengan nilai uang. Hal ini tentunya memberikan peluang ekonomi baru yang menguntungkan bagi warga yang aktif menjaga kelestarian hutan.
Salah satu wujud nyata dari partisipasi masyarakat dalam penghijauan ditunjukkan melalui program yang digerakkan oleh Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat. Afif Nurhidayat berhasil menggerakkan warga setempat untuk menanam ratusan ribu pohon kopi di kawasan lereng Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Upaya penanaman pohon kopi di lereng kedua gunung tersebut tidak hanya berfungsi sebagai langkah penghijauan untuk mencegah kerusakan lingkungan, melainkan juga menjadi fondasi penting bagi potensi perdagangan karbon yang dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat Wonosobo secara berkelanjutan.
Panduan Menghadapi Darurat Karhutla dan Kabut Asap di Kota Pontianak

Melalui rangkaian kunjungan kerja pada 8-9 Agustus 2026 ini, sinergi antara pemerintah pusat melalui KLH/BPLH dan pemerintah daerah Kabupaten Wonosobo terlihat semakin erat. Dengan mendorong pariwisata berbasis lingkungan serta memanfaatkan potensi perdagangan karbon melalui aksi nyata seperti penanaman ratusan ribu pohon kopi, Wonosobo berkomitmen untuk menyelaraskan pertumbuhan ekonomi dan pemeliharaan lingkungan. Program-program ini diharapkan dapat terus berjalan secara berkelanjutan demi masa depan lingkungan hidup yang lebih baik dan masyarakat yang lebih sejahtera.






