Kenaikan signifikan melanda pasar energi global pada perdagangan hari Senin (10/8). Harga minyak mentah dunia melonjak sekitar 5 persen setelah Iran dan Oman belum mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital ini masih tertutup akibat ketegangan geopolitik yang belum mereda, memicu kekhawatiran atas pasokan minyak mentah global yang kian mengetat.
Di pasar berjangka New York, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September melonjak 5,1 persen hingga mencapai USD 82,13 per barel. Tren serupa terjadi pada minyak mentah Brent untuk penyelesaian Oktober yang terangkat 5 persen ke level USD 87,72 per barel. Tidak hanya minyak mentah, harga solar berjangka di Eropa juga melesat lebih dari 10 persen pasca-penyelesaian transaksi, sementara harga gas alam berjangka di benua tersebut melonjak hingga 12 persen.
Lonjakan harga di Eropa ini dipicu oleh serangan terhadap kilang minyak Jazan milik Arab Saudi yang berlokasi di dekat Laut Merah. Militan Houthi di Yaman yang didukung oleh Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Kementerian Energi Arab Saudi mengonfirmasi bahwa kebakaran di kilang Jazan berhasil dipadamkan pada Minggu pagi, meskipun mereka tidak merinci penyebab pastinya. Selain itu, situasi di Selat Hormuz kian memanas setelah sebuah kapal tanker yang dioperasikan oleh Abu Dhabi National Oil Co. menjadi sasaran serangan pada akhir pekan lalu.
BPS Catat Harga Beras dan Minyak Goreng Masih Tinggi pada Awal Agustus 2026

Kebuntuan negosiasi antara Iran dan Oman untuk membuka kembali Selat Hormuz berakar pada tuntutan ketat dari pihak Teheran. Pemerintah Iran menegaskan bahwa pembukaan kembali selat tersebut hanya akan dilakukan jika Amerika Serikat menghentikan blokade terhadap pengiriman minyak Iran serta membayar kompensasi atas kerusakan yang terjadi. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan sikap sabar dalam menghadapi proses negosiasi ini. Di tengah ketegangan ini, Iran juga mempromosikan Mohsen Rezaee, seorang tokoh garis keras dan mantan komandan tertinggi Korps Garda Revolusi Islam, untuk menduduki posisi keamanan tertinggi di negara tersebut.
Sebelum konflik pecah, sekitar seperlima dari total pasokan minyak dan gas alam dunia dikirim melalui Selat Hormuz ke pasar global. Saat ini, lalu lintas kapal di jalur tersebut melambat drastis dengan rata-rata hanya sekitar lima kapal yang melintas setiap harinya. Angka ini turun tajam dibandingkan dengan rata-rata 14 kapal per hari setelah AS dan Iran sempat mencapai nota kesepahaman pada Juni lalu, sebagaimana dicatat oleh Amrita Sen selaku pendiri dan direktur intelijen pasar di Energy Aspects. Untuk menjaga kelancaran distribusi di dalam negerinya, Donald Trump memperpanjang pengabaian Undang-Undang Jones (Jones Act Waiver) yang membebaskan minyak mentah dan produk energi lainnya dari kewajiban diangkut oleh kapal berbendera, buatan, dan milik AS untuk pelayaran antarpelabuhan domestik.
BEI Pantau Ketat Saham MCAS dan FUTR Akibat Unusual Market Activity

Melihat ketidakpastian yang masih membayangi jalur distribusi utama ini, fluktuasi harga diperkirakan masih akan terus berlanjut. Ekonom komoditas dan iklim dari Capital Economics, Hamad Hussain, memproyeksikan bahwa harga minyak mentah Brent kemungkinan besar akan tetap bergerak fluktuatif di kisaran USD 80 hingga USD 90 per barel dalam jangka pendek, seiring dengan belum adanya titik temu diplomasi di kawasan Timur Tengah.






