Seniman kenamaan asal Jepang yang dijuluki Ratu Polkadot, Yayoi Kusama, meninggal dunia pada usia 97 tahun. Kusama mengembuskan napas terakhirnya di sebuah rumah sakit di Tokyo pada 14 Agustus 2026, sebagaimana diumumkan oleh pihak perusahaannya pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Berdasarkan laporan BBC, kabar duka tersebut disampaikan secara resmi dengan menyebutkan bahwa Kusama tetap aktif berkarya hingga pengujung hayatnya. Pihak manajemen menyatakan Kusama terus melukis dan mengeksplorasi tema cinta abadi serta jiwa yang kekal tanpa pernah melepaskan kuasnya.
Kusama dikenal luas di panggung seni global melalui penampilannya yang khas dengan wig merah terang, penggunaan warna-warna berani, serta eksplorasi motif polkadot dan jaring. Salah satu warisan terpentingnya dalam seni rupa modern adalah konsep instalasi Infinity Mirror Rooms yang ia pelopori sejak 1965, menghadirkan ilusi ruang tanpa batas melalui susunan cermin.
Perjalanan Karier dan Pengalaman Hidup
Lahir pada 1929 di wilayah pegunungan Matsumoto, Jepang, Kusama tumbuh dalam keluarga pembudidaya bibit tanaman. Masa remajanya diwarnai oleh situasi Perang Dunia II, di mana ia sempat dipaksa bekerja selama 12 jam sehari di sebuah pabrik militer.
Motif Pengeroyokan Pedagang Cermin di Pejompongan Terungkap, 3 Tersangka Ditangkap

Setelah perang berakhir pada 1948, Kusama memutuskan pergi ke Kyoto untuk mendalami seni lukis. Ia kemudian berkelana mempelajari berbagai gaya artistik dari Kyoto hingga Kamakura. Dorongan untuk meraih pengakuan dari kritikus seni internasional membawanya hijrah ke Amerika Serikat pada 1957.
Selama berkarier di Amerika Serikat, Kusama turut menyuarakan kritik terhadap Perang Vietnam melalui karyanya. Namun, periode tersebut juga diwarnai kekecewaan profesional. Gagasan seninya sempat ditiru oleh sejumlah seniman pria seperti Andy Warhol, Claes Oldenburg, dan Lucas Samaras, yang saat itu memperoleh panggung di galeri-galeri yang lebih bergengsi.
Pengakuan Global dan Dedikasi di Akhir Hayat
Tekanan karier dan masalah kesehatan mental imbas pengalaman masa lalunya membuat Kusama kembali ke Jepang pada dekade 1970-an. Sejak 1977, ia secara sukarela memilih menetap dan menjalani perawatan di sebuah rumah sakit jiwa di Tokyo. Dari fasilitas medis tersebut, Kusama tetap produktif melahirkan lukisan, patung, hingga instalasi berskala besar selama puluhan tahun.
2 Kurir Narkoba Ditangkap di Cengkareng, Sabu 5,2 Kg Diamankan

Reputasi globalnya kian tak terbantahkan seiring waktu. Pada 1993, ia tercatat sebagai satu-satunya seniman solo yang mewakili Jepang di Biennale Venesia. Kontribusinya bagi kebudayaan dan seni rupa kemudian diganjar dengan Penghargaan Asahi di Jepang pada 2001.
Karya-karyanya juga mencatatkan nilai tinggi di pasar seni internasional, termasuk salah satu lukisannya yang terjual seharga 10,5 juta dolar AS atau sekitar Rp186 miliar pada 2022. Kepergian Kusama menandai berakhirnya perjalanan panjang salah satu tokoh avant-garde paling berpengaruh di dunia seni kontemporer.






