Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan sikap konfrontatif Teheran terhadap tekanan Barat saat melakukan kunjungan perdana ke India. Di hadapan para pemimpin agama di New Delhi, Pezeshkian menyatakan bahwa Iran tidak akan pernah menyerah kepada Amerika Serikat sekaligus menegaskan negaranya telah berhasil memukul mundur agresi militer yang dilancarkan oleh AS dan Israel.
Pernyataan keras tersebut dilontarkan di tengah lawatan resmi Pezeshkian untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS serta melangsungkan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri India Narendra Modi. Sikap Teheran ini sekaligus menjadi respons langsung terhadap retorika keras Washington.
Di pihak lain, Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengeklaim bahwa Washington harus mengambil tindakan militer yang tegas terhadap Teheran. Trump menyebut bahwa tanpa intervensi militer, Iran dapat menghancurkan Israel, merusak kawasan Timur Tengah, hingga mulai mengancam kota-kota di Amerika Serikat. Perseteruan kedua pihak ini kian memuncak setelah AS dan Israel memulai aksi perang terhadap Iran sejak 28 Februari lalu.
Dor! Presiden Mesir Ditembak Mati usai Damai dengan Israel

Di tengah meningkatnya tensi geopolitik tersebut, PM India Narendra Modi mengambil pendekatan yang berfokus pada deeskalasi konflik dan stabilitas ekonomi kawasan. Dalam pertemuan bilateral dengan Pezeshkian pada hari Jumat, Modi menyoroti jaminan keselamatan bagi para pelaut serta menekankan pentingnya kebebasan navigasi, kelancaran perdagangan internasional, dan penyelesaian konflik Timur Tengah melalui jalur diplomasi. Terlepas dari situasi yang memanas, kedua pemimpin tampak memperlihatkan kedekatan saat berjalan bergandengan tangan usai menghadiri Forum Bisnis BRICS.
Kekhawatiran New Delhi berakar pada dampak langsung perang terhadap jalur logistik maritim di Selat Hormuz. Jalur perairan strategis antara Iran dan Oman tersebut mengalami perlambatan pengiriman minyak dan kargo secara drastis sejak eskalasi militer pecah. Situasi ini menempatkan India dalam posisi rentan mengingat negara tersebut mengimpor hampir 85 persen kebutuhan bahan bakarnya lewat jalur pasokan tersebut.
Kemarau Panjang Bikin Sungai Kering, Pengusaha Sawit Hadapi Hambatan Distribusi CPO

Gangguan keamanan di Selat Hormuz juga telah memakan korban nyata bagi pihak India. Pada Juli lalu, sebanyak dua kapal yang membawa total 30 pelaut India diserang saat berlayar di perairan tersebut. Data dari pemerintah India mencatat sedikitnya 10 pelaut mereka telah tewas akibat meluasnya eskalasi konflik militer di kawasan Timur Tengah.






