Perhelatan militer megah di Kairo pada 6 Oktober 1981 berujung pertumpahan darah. Presiden Mesir Anwar Sadat tewas ditembak oleh personel militernya sendiri saat menyaksikan parade perayaan keberhasilan pasukan Mesir melintasi Terusan Suez pada Perang Yom Kippur 1973.
Peristiwa tragis tersebut bermula ketika sebuah truk militer yang sedang berparade tiba-tiba berhenti di depan tribun kehormatan. Seorang perwira turun dari kendaraan dan memberikan hormat militer kepada Sadat. Menanggapi gestur itu, Sadat berdiri dari tempat duduknya untuk membalas penghormatan.
Situasi seketika berubah kacau ketika tiga granat dilemparkan ke arah tribun kehormatan, disusul rentetan tembakan senjata otomatis dari arah truk. Serangan kilat tersebut merobohkan Sadat bersama sejumlah pejabat negara dan penonton di lokasi. Sadat segera dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani tindakan operasi darurat, namun nyawanya tidak tertolong dan ia dinyatakan wafat pada hari yang sama.
Presiden Iran Beri Ultimatum Baru, Siap Lawan AS-Israel

Motif Perjanjian Damai Camp David
Dalang utama di balik penyerangan tersebut adalah Letnan Khalid Islambouli, seorang anggota kelompok radikal Jihad Islam Mesir. Kelompok ini memandang langkah diplomatik Sadat terhadap Israel sebagai bentuk pengkhianatan terhadap perjuangan rakyat Palestina.
Sebelum tragedi itu terjadi, Sadat mengambil langkah berani dengan menandatangani Perjanjian Damai Camp David pada 26 Maret 1979 bersama Perdana Menteri Israel Menachem Begin, dengan disaksikan langsung oleh Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter. Langkah perdamaian bilateral ini diambil setelah perang mendadak gabungan Mesir dan Suriah ke wilayah Israel pada 6 Oktober 1973.
Kemarau Panjang Bikin Sungai Kering, Pengusaha Sawit Hadapi Hambatan Distribusi CPO

Sadat memiliki pandangan strategis bahwa kekuatan militer tidak akan mampu menundukkan Israel secara mutlak, sehingga jalur diplomasi dan perdamaian dianggap sebagai solusi paling realistis demi menciptakan stabilitas jangka panjang di kawasan Timur Tengah. Kebijakan tersebut memicu penolakan keras dari faksi-faksi garis keras di dalam negeri.
Khalid Islambouli langsung ditangkap oleh aparat keamanan di lokasi penembakan sesaat setelah insiden berlangsung. Melalui proses pengadilan militer, Islambouli dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi oleh regu algojo pada 15 April 1982.






