Kinerja ekspor minyak kelapa sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) beserta produk turunannya memperkokoh aliran devisa nasional setelah mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,49 persen sepanjang Januari hingga Juli 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penguatan ekspor ini memberikan dampak langsung terhadap kinerja perdagangan luar negeri Indonesia di tengah pergerakan positif harga komoditas global.
Kenaikan pengiriman komoditas tersebut tercermin pada kelompok lemak dan minyak hewani maupun nabati (HS15) yang menjadi salah satu pendorong utama performa ekspor nonmigas. Pejabat terkait, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa pergerakan harga di pasar global pada Juli 2026 secara umum menunjukkan tren kenaikan secara tahunan, di mana peningkatan harga komoditas pertanian utamanya didorong oleh kenaikan harga minyak sawit.
Secara keseluruhan, kontribusi komoditas unggulan tersebut turut mengangkat nilai ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari–Juli 2026 hingga mencapai US$160,01 miliar, atau meningkat 5,21 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada rentang waktu yang sama, total nilai ekspor Indonesia secara kumulatif mencapai US$167,03 miliar, mencatat pertumbuhan sebesar 4,43 persen.
OJK, Pembukaan Rekening Massal Strategis untuk Perkuat Inklusi Keuangan

Menanggapi capaian perdagangan tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya lompatan strategi agar Indonesia tidak terus bergantung pada penjualan produk mentah. Mentan mendorong penguatan rantai pasok industri kelapa sawit nasional melalui hilirisasi demi melipatgandakan nilai ekonomi di dalam negeri.
“Indonesia ini salah satu produsen sawit terbesar dunia. Ini kekuatan kita. Jangan hanya ekspor bahan mentah, tetapi kita dorong hilirisasi supaya nilai tambahnya semakin besar,” tegas Amran.
Pertamina Patra Niaga Terus Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU di Sulawesi Selatan

Langkah pemrosesan komoditas menjadi produk turunan bernilai tinggi ini juga didukung oleh kinerja sektor manufaktur domestik. Berdasarkan data periode Januari–Juli 2026, sektor industri pengolahan di Indonesia berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,16 persen, membuka ruang lebih luas bagi industri hilir sawit untuk terus berkembang.






