Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa penataan pedagang di kawasan Pasar Ikan Kramat Jati, Jakarta Timur, bertujuan untuk mengembalikan fungsi jalan serta ruang publik. Kawasan tersebut telah menjadi pusat aktivitas perdagangan selama lebih dari 50 tahun atau sejak awal 1970-an, namun keberadaannya di bahu jalan kerap memicu kemacetan parah, terutama pada jam sibuk sore hingga malam hari.
Isu keselamatan pengguna jalan juga menjadi sorotan setelah kecelakaan m fatal menimpa seorang pelajar berinisial HH (17) di Jalan Raya Bogor, Kramat Jati, pada Senin (17/8). Korban tewas terlindas truk sampah Dinas Lingkungan Hidup usai terjatuh dari sepeda motor akibat kondisi jalan yang licin di sekitar area perdagangan basah tersebut.
Skema Relokasi dan Insentif Retribusi
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat sekitar 614 pedagang berjualan di kawasan Kramat Jati. Untuk menampung para pedagang, Pemprov DKI membagi penempatan ke sejumlah titik:
Menhut Ingin Sewa 12 Pesawat Tangani Karhutla, Bujetnya Rp1,54 T

- 331 pedagang di Pasar Kramat Jati Sektor 7
- 193 pedagang ikan di Lokbin Kramat Jati
- 45 pedagang kue di Lokbin Cililitan
- 45 pedagang lainnya di pasar naungan Pasar Jaya
Sebagai langkah meringankan beban pedagang yang berpindah, iuran atau retribusi di Lokbin Pasar Kramat Jati digratiskan selama enam bulan pertama. Setelah masa pembebasan biaya berakhir, pedagang akan dikenakan tarif Rp 180.000 per bulan atau sekitar Rp 6.000 per hari. Pemprov DKI juga merencanakan perbaikan fasilitas di lokasi baru, meliputi pengaturan saluran drainase, sirkulasi udara, serta pemasangan kipas angin.
Keluhan Kapasitas Lapak dan Penurunan Omzet
Kendati langkah relokasi telah berjalan, sejumlah pedagang menyuarakan kendala kapasitas dan sepinya pembeli. Koordinator Pedagang Subuh Kramat Jati, Muhtarom, mengungkapkan bahwa dari 143 tempat yang tersedia di Lokbin, hanya sekitar 120 lapak yang dinilai layak pakai. Kondisi tersebut menyisakan sekitar 471 pedagang yang belum terakomodasi tempat usahanya. Terkait penyiapan lokasi tambahan, Muhtarom dan Pramono menyepakati tenggat waktu pengerjaan selama tiga minggu.
Prabowo Pimpin Rapat Bahas Akses Rumah Layak dan Terjangkau di Hambalang

Di lapangan, penurunan pendapatan dirasakan langsung oleh pelaku usaha. Alvin (23), seorang pedagang ikan, menuturkan penjualannya merosot tajam selama tiga hari pertama menempati lokasi baru. Dari lima karung pasokan ikan yang ia sediakan, terkadang hanya satu karung yang laku terjual, sementara empat karung lainnya terbuang.
Keluhan serupa datang dari pedagang lain, Hamimah (35). Penghasilan hariannya menyusut dari kisaran Rp 300.000 saat berjualan di pinggir jalan menjadi sekitar Rp 100.000 di lokasi relokasi. Bersama suaminya, Muhammad Neri (36), Hamimah juga meminta pengelola memperluas area parkir agar pembeli tidak kesulitan mengakses tempat berbelanja yang baru.






