Kondisi kualitas udara di Provinsi Riau mulai menunjukkan perbaikan meski ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum sepenuhnya usai. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat saat ini masih terdapat empat titik api yang terdeteksi di wilayah tersebut.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menjelaskan bahwa kualitas udara di sejumlah area Riau berada pada rentang kategori sedang hingga tidak sehat. Walau begitu, jarak pandang secara umum terpantau relatif aman dan normal, yakni berada di atas 9 kilometer.
Situasi yang terkendali membuat aktivitas harian masyarakat dan kegiatan belajar mengajar di sekolah tetap berlangsung normal secara tatap muka. Salah satu indikator pulihnya kualitas udara juga terlihat dari kembali digelarnya agenda Car Free Day di Kota Pekanbaru pada akhir pekan lalu.
Menhut Ingin Sewa 12 Pesawat Tangani Karhutla, Bujetnya Rp1,54 T

Penanganan Jalur Darat dan Pemadaman Udara
Operasi pengendalian karhutla terus digencarkan secara terpadu dengan melibatkan personel gabungan dari TNI, Polri, Manggala Agni, dinas pemadam kebakaran, pihak swasta, serta masyarakat setempat. Satgas Darat memfokuskan pemadaman pada lima wilayah prioritas, meliputi Kabupaten Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, Pelalawan, Siak, dan Bengkalis. Hingga 31 Agustus 2026, total area yang berhasil dipadamkan melalui jalur darat telah mencapai lebih dari 126 hektare.
Di sektor udara, Satgas Udara menyiagakan dua unit helikopter untuk keperluan patroli berkala, pemantauan titik panas (hotspot), dan pengamatan arah pergerakan angin. BNPB juga mengerahkan tiga unit helikopter untuk melakukan operasi water bombing sebanyak lima sorti penerbangan, dengan total 516 ribu liter air yang dijatuhkan ke titik api. Upaya pengeboman air tersebut telah memadamkan lahan seluas 8,8 hektare.
Prabowo Pimpin Rapat Bahas Akses Rumah Layak dan Terjangkau di Hambalang

Mengenai rencana Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), BNPB menyampaikan bahwa langkah tersebut saat ini belum bisa dieksekusi. Pelaksanaan hujan buatan masih terkendala oleh ketiadaan potensi awan yang memungkinkan untuk disemai di atas langit Riau.






