Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), khususnya di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Nusantara, terus mencatatkan langkah percepatan yang terstruktur dan terukur. Langkah pembangunan multi-sektor ini diarahkan guna mempersiapkan seluruh fasilitas pemerintahan, infrastruktur dasar, serta sarana penunjang dalam menyongsong pemanfaatan IKN sebagai ibu kota negara sekaligus Ibu Kota Politik pada tahun 2028. Koordinasi lintas lembaga, kementerian teknis, badan otorita, serta keterlibatan aktif mitra usaha menjadi tumpuan utama dalam merealisasikan agenda transformasi nasional ini secara berkelanjutan.
Dalam rangka menjaga ketepatan arah pembangunan, pengawasan dan evaluasi berkala terus dilakukan terhadap seluruh aspek konstruksi fisik di lapangan. Berbagai capaian nyata kini telah tampak di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan, mulai dari penuntasan paket-paket pekerjaan fisik di bawah kementerian terkait, pengelolaan sumber daya air perkotaan, penataan kawasan hunian, hingga penyediaan sarana institusional bagi lembaga tinggi negara. Keterpaduan antara perencanaan strategis jangka panjang dan realisasi operasional harian menjadi kunci penting dalam memastikan seluruh target pembangunan dapat terwujud sesuai rencana.
Langkah konsolidasi pembangunan di Ibu Kota Nusantara tidak hanya bertumpu pada pembangunan gedung-gedung pemerintahan, melainkan juga mencakup ekosistem pendukung yang komprehensif. Kehadiran fasilitas pendidikan terpadu, sarana pelayanan kesehatan, pusat aktivitas komersial, jaringan jalan terintegrasi, hingga konservasi tata air perkotaan dibangun secara beriringan. Seluruh proses pelaksanaan konstruksi ini dijalankan dengan berlandaskan pada komitmen menjaga tata kelola proyek yang efektif, transparan, dan terkoordinasi antar-pemangku kepentingan.
Tiga Pilar Pembangunan dan Evaluasi Fisik Tahap II IKN
Pelaksanaan pembangunan fisik di Ibu Kota Nusantara berpegang teguh pada tiga pilar utama yang menjadi prinsip dasar perancangan dan pelaksanaan di lapangan. Tiga pilar pembangunan IKN tersebut adalah kualitas, estetika, dan keberlanjutan lingkungan. Ketiga prinsip ini diterapkan secara terintegrasi dalam setiap pengerjaan sarana dan prasarana guna menjamin bahwa infrastruktur yang terbangun tidak hanya kokoh dan berfungsi optimal, tetapi juga memiliki keharmonisan visual tata ruang serta tetap menjaga kelestarian daya dukung alam di sekitarnya.
Untuk mengawal implementasi prinsip-prinsip tersebut, Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) secara aktif menyelenggarakan evaluasi pembangunan fisik Tahap II. Evaluasi berkala ini dilaksanakan bersama pihak swasta, para investor, serta instansi dan kementerian/lembaga terkait. Agenda evaluasi terpadu ini difokuskan untuk mengukur kesesuaian kemajuan pembangunan fisik dengan peta jalan strategis yang telah disusun, terutama dalam memastikan target IKN sebagai Ibu Kota Politik pada tahun 2028 dapat tercapai secara tepat waktu dan memenuhi standar yang ditetapkan.
Proses evaluasi fisik Tahap II juga menjadi sarana strategis dalam memperkuat koordinasi antara pengelola kawasan, regulator, dan para pelaksana teknis proyek. Melalui forum evaluasi bersama tersebut, Otorita IKN bersama pihak swasta dan investor dapat menyelaraskan ritme pengerjaan infrastruktur komersial dan fasilitas umum dengan pembangunan gedung-gedung kelembagaan negara, sehingga integrasi fungsi perkotaan dapat terwujud secara harmonis dan saling melengkapi.
Peninjauan Lapangan dan Proyek Strategis di KIPP Nusantara
Komitmen terhadap keberlanjutan dan kualitas perencanaan jangka panjang di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan Nusantara turut mendapat perhatian melalui peninjauan langsung di lapangan. Pada Kamis, 20 Agustus 2026, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Menteri PPN/Kepala Bappenas) periode 2019–2024 Suharso Monoarfa melakukan kunjungan kerja ke KIPP Nusantara guna melihat secara langsung perkembangan proyek-proyek strategis yang sedang berjalan.
Rangkaian kunjungan kerja tersebut mencakup peninjauan mendalam terhadap sejumlah proyek strategis di KIPP Nusantara, salah satunya adalah peninjauan fasilitas pendidikan unggulan SMA Taruna Nusantara Kampus IKN. Peninjauan proyek-proyek strategis ini menegaskan pentingnya kesinambungan pembangunan antara fasilitas institusional pemerintahan, sarana konektivitas utama, dan sarana pengembangan sumber daya manusia di kawasan ibu kota baru.
Kunjungan ke area proyek strategis di KIPP Nusantara tersebut juga memberikan gambaran utuh mengenai integrasi fisik antar-fasilitas penunjang di kawasan inti. Kawasan yang dirancang terpadu ini mempertemukan area perkantoran pemerintahan, sarana pendidikan berkualitas, serta koridor utilitas terpadu guna membentuk ekosistem perkotaan yang siap digunakan secara fungsional dalam jangka panjang.
Mekanisme Penetapan Upah Minimum Provinsi UMP dan Upah Minimum Kabupaten UMK

Realisasi Paket Pekerjaan Fisik Berbasis Skema APBN
Dalam penyelenggaraan pembangunan fisik di Ibu Kota Nusantara, pembiayaan dijalankan melalui tiga skema utama, yaitu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), serta investasi swasta murni. Skema APBN memegang peranan krusial dalam mendanai pembangunan infrastruktur dasar, gedung kelembagaan, serta fasilitas penunjang utama yang dikelola oleh kementerian teknis dan Otorita IKN.
Distribusi pengelolaan paket pekerjaan fisik yang bersumber dari pendanaan APBN terbagi ke dalam tiga entitas pelaksana utama:
- Otorita Ibu Kota Nusantara (Otorita IKN): Mengelola sebanyak 40 paket pekerjaan fisik APBN. Dari keseluruhan paket tersebut, sebanyak sembilan paket telah selesai dikerjakan pada tahun 2025, 15 paket saat ini berada dalam tahap pengerjaan konstruksi, dan 16 paket lainnya sedang memasuki tahapan persiapan proses lelang.
- Kementerian Pekerjaan Umum: Menangani sebanyak 90 paket pekerjaan fisik di IKN. Dari total portofolio tersebut, sebanyak 78 paket pekerjaan telah berhasil diselesaikan, sementara 12 paket pekerjaan lainnya masih berada dalam proses pelaksanaan konstruksi di lapangan.
- Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman: Mengelola sebanyak 12 paket pembangunan fisik. Dari portofolio pembangunan tersebut, sebanyak 11 paket telah rampung diselesaikan, sedangkan satu paket pembangunan masih dalam tahap pelaksanaan konstruksi aktif.
Capaian penuntasan puluhan paket pekerjaan APBN ini memberikan fondasi yang kuat bagi ketersediaan infrastruktur primer di IKN. Penuntasan paket-paket pekerjaan fisik oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman bersama Otorita IKN memastikan kesiapan jalan utama, jaringan drainase, fasilitas air minum, serta bangunan permukiman awal bagi aparatur yang bertugas di kawasan ibu kota.
Proyek Prakarsa Skema KPBU pada Sektor Hunian dan Jalan
Selain mengandalkan pendanaan langsung dari APBN, penyediaan fasilitas perkotaan di IKN diperluas melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Skema ini memungkinkan adanya partisipasi badan usaha dalam membangun fasilitas strategis perkotaan tanpa membebani kapasitas pembiayaan negara secara sepihak, sekaligus mempercepat penyediaan sarana perumahan dan jalur transportasi.
Secara keseluruhan, skema KPBU di Ibu Kota Nusantara mencatatkan 13 proyek prakarsa. Rincian proyek prakarsa KPBU tersebut mencakup dua sektor utama sebagai berikut:
- Sektor Hunian: Terdiri dari tujuh proyek prakarsa yang difokuskan pada penyediaan kawasan tempat tinggal dan perumahan bagi masyarakat dan aparatur.
- Sektor Jalan: Terdiri dari enam proyek prakarsa yang dialokasikan untuk pembangunan jaringan aksesibilitas, koridor penghubung, dan infrastruktur konektivitas transportasi darat.
Sebagai realisasi nyata dari skema kemitraan ini, pembangunan fisik proyek prakarsa akan segera dimulai di lapangan. Pelaksanaan tersebut mencakup pembangunan sebanyak 108 unit rumah tapak yang diprakarsai oleh PT Intiland Development Tbk, serta pembangunan delapan menara rumah susun yang diprakarsai oleh PT Nindya Karya. Pembangunan perumahan melalui skema KPBU ini memperluas portofolio hunian di IKN dalam rangka memenuhi kebutuhan akomodasi yang terus meningkat seiring bertambahnya aktivitas di KIPP Nusantara.
Peran dan Capaian Skema Investasi Swasta di Nusantara
Pendanaan melalui skema investasi swasta menjadi salah satu pilar utama pembiayaan pembangunan di IKN yang berfungsi melengkapi fasilitas komersial, perhotelan, layanan medis, pendidikan tinggi, dan sarana penunjang perkotaan lainnya. Keterlibatan modal badan usaha swasta mempertegas komitmen dunia usaha dalam mendukung terwujudnya ekosistem perkotaan yang modern dan berdaya saing.
Hingga saat ini, sebanyak 67 pelaku usaha telah resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dalam skema investasi swasta di IKN. Dari puluhan entitas bisnis yang telah mengikat kerja sama formal tersebut, progres pembangunan fisik di lapangan menunjukkan hasil nyata:
Mekanisme dan Tata Cara Penetapan NI PPPK Paruh Waktu serta Alur Pengisian DRH di SSCASN

- Sebanyak sembilan proyek investasi swasta telah selesai dibangun.
- Sebanyak enam proyek investasi swasta lainnya saat ini tengah berada dalam tahap pengerjaan konstruksi.
Keterlibatan para pelaku usaha dalam skema investasi swasta mencakup pembangunan berbagai fasilitas vital penunjang aktivitas perkotaan. Proyek-proyek tersebut meliputi fasilitas layanan kesehatan modern seperti Rumah Sakit Abdi Waluyo, sarana pendidikan tinggi melalui Kampus Universitas Gunadarma Nusantara, serta fasilitas komersial dan rekreasi kuliner Teras by Plataran. Selain itu, investasi badan usaha juga mencakup partisipasi dari PT Star Bright International Investment, PT Fajar Maju Karya Gemilang, dan PT Dian Jaya Indonesia yang terintegrasi dengan aksesibilitas Jembatan Pulau Balang serta area perkantoran seperti Multifunction Hall di Gedung Kemenko 1.
Pembangunan Jaringan Embung dan Penataan Keseimbangan Lingkungan
Pengelolaan tata air dan pengendalian lingkungan di kawasan IKN mengandalkan keberadaan jaringan embung terpadu yang dibangun secara tersebar di KIPP Nusantara. Bangunan penampung air ini memegang peran ganda, yakni sebagai pengendali hidrologi dan retensi air baku, sekaligus menjadi elemen lansekap yang meningkatkan keasrian visual tata ruang kota.
Perkembangan pembangunan jaringan embung di IKN mencatat capaian signifikan sebagai berikut:
- Embung Selesai dan Berfungsi: Sebanyak 32 embung telah selesai dibangun dan telah beroperasi secara optimal di IKN. Air yang tertampung di dalam 32 embung tersebut telah dimanfaatkan secara aktif untuk kebutuhan operasional penyiraman tanaman dan vegetasi di ruang-ruang terbuka hijau kawasan.
- Embung Tahap Baru: Sebanyak 24 embung tambahan mulai dibangun pada tahun 2026 untuk memperkuat kapasitas tampung air kawasan.
- Total Akumulasi Embung: Dengan penambahan pembangunan 24 embung pada tahun 2026, total keseluruhan embung di IKN akan mencapai 54 embung, di mana salah satu fungsi utama dari keberadaan embung-embung tersebut adalah sebagai elemen estetika kota yang mempercantik wajah IKN.
Keberadaan total 54 embung ini menjadi wujud nyata dari penerapan pilar keberlanjutan lingkungan dan pilar estetika di Ibu Kota Nusantara. Pemanfaatan air embung untuk penyiraman lansekap hijau menjamin efisiensi pemanfaatan sumber daya air setempat serta menjaga kondisi iklim mikro kawasan perkotaan tetap sejuk dan asri.
Pengembangan Kawasan Legislatif, Yudikatif, dan Prospek Ibu Kota Politik 2028
Penataan pusat kelembagaan kenegaraan di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan kini semakin lengkap dengan dimulainya pengerjaan kompleks bagi cabang kekuasaan legislatif dan yudikatif. Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Ahmad Muzani menyampaikan apresiasi terhadap percepatan pembangunan IKN setelah menerima paparan perkembangan pembangunan IKN secara langsung dari Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono.
Kemajuan pembangunan klaster kelembagaan kenegaraan di IKN mencakup sejumlah poin penting:
- Persetujuan Kawasan Legislatif dan Yudikatif: Pembangunan kawasan legislatif dan yudikatif di IKN telah mendapatkan persetujuan resmi dari Presiden dan telah mulai memasuki tahapan pembangunan fisik di lapangan.
- Penyediaan Hunian Anggota MPR: Terdapat rencana pembangunan fasilitas hunian berupa apartemen dan hunian tapak bagi sekitar 732 anggota MPR di IKN, yang dari segi perancangan desain telah disetujui oleh Presiden.
- Optimisme Target Pemanfaatan 2028: Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyampaikan harapannya agar target pemanfaatan IKN sebagai ibu kota negara pada tahun 2028 dapat terealisasi sepenuhnya seiring dengan kemajuan pengerjaan gedung perkantoran dan perumahan para wakil rakyat.
Sinkronisasi antara penyediaan gedung parlemen, kantor lembaga peradilan, serta fasilitas hunian bagi para anggota legislatif menjadi tonggak penting dalam mempersiapkan KIPP Nusantara sebagai pusat tata kelola politik nasional. Kesiapan ini mengukuhkan komitmen bersama seluruh cabang kekuasaan negara untuk menjalankan tugas dan fungsinya di Ibu Kota Nusantara sesuai target waktu yang telah ditetapkan.
Melalui perpaduan tiga skema pembiayaan APBN, KPBU, dan investasi swasta, serta berpegang teguh pada pilar kualitas, estetika, dan keberlanjutan lingkungan, seluruh proyek infrastruktur di Ibu Kota Nusantara terus bergerak menuju penyelesaian terpadu. Keberhasilan pembangunan fisik yang konsisten di lapangan memperkuat optimisme terhadap terwujudnya IKN sebagai ibu kota negara dan Ibu Kota Politik yang fungsional, megah, dan membanggakan pada tahun 2028.






