PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) secara resmi mempertahankan peringkat korporasi tertinggi bagi PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) pada level idAAA dengan prospek stabil (stable outlook). Peringkat ini berlaku efektif untuk periode 4 September 2026 hingga 1 September 2027.
Penetapan peringkat tersebut didasarkan pada penilaian Pefindo terhadap kekuatan profil kredit BTN. Lembaga pemeringkat tersebut menilai bahwa posisi kredit perseroan didukung secara kuat oleh kinerja bisnis, posisi likuiditas, serta tingkat fleksibilitas keuangan yang sangat kokoh.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menyatakan bahwa perolehan predikat peringkat tertinggi ini merupakan bentuk pengakuan dan kepercayaan yang nyata terhadap fundamental serta ketahanan bisnis BTN dalam menghadapi tantangan industri perbankan.
Penyebab IHSG Naik 1% di Awal Sesi 2, Ditopang Saham Perbankan dan Arus Modal Asing

Selain faktor internal perseroan, Pefindo memberikan penilaian positif terhadap BTN karena adanya dukungan yang sangat kuat dari pemerintah. Hal ini sejalan dengan peran strategis BTN sebagai motor utama penggerak sektor perumahan nasional, khususnya dalam mendukung pelaksanaan berbagai program perumahan yang diinisiasi oleh pemerintah.
Secara khusus, BTN memiliki andil penting dalam merealisasikan Program Tiga Juta Rumah milik Presiden Prabowo Subianto. Peran nyata tersebut diwujudkan perseroan melalui penyaluran dan penyediaan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi yang ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah hingga menengah di seluruh Indonesia.
Rupiah Berbalik Ditutup Menguat, Dolar AS Turun Tipis ke Rp17.625

Di samping peringkat korporasi, Pefindo turut mempertahankan peringkat atas sejumlah surat utang yang diterbitkan oleh perseroan. Pefindo mempertahankan peringkat idAAA untuk instrumen Obligasi Sosial Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2025 dengan nilai emisi sebesar Rp300 miliar. Pada saat yang sama, instrumen Obligasi Subordinasi I Tahap I Tahun 2025 dengan nilai emisi Rp2 triliun juga dipertahankan pada peringkat idAA.
Berdasarkan struktur kepemilikan saham perseroan per 30 Juni 2026, mayoritas saham BTN sebesar 60 persen dikuasai oleh Pemerintah Indonesia melalui BPI Danantara dan BP BUMN. Sementara itu, sisa 40 persen kepemilikan saham perseroan dimiliki oleh publik.






